Secara garis besar, menurut Stibbe, ‘cerita’ yang desktruktif membutuhkan ‘cerita’ alternatif untuk menjaga keberlangsungan ekologis. ‘Cerita’ yang destruktif berarti menentang konsep ekosentris, sedangkan ‘cerita’ alternatif hadir untuk memberikan penawaran yang mendukung konsep ekosentris. Contoh ‘cerita’ desktruktif dapat diamati pada judul berita “Waka MPR Bicara Kepekaan Sosial Masyarakat Hadapi Ancaman Bencana Alam” (Detik, 15 Mei 2024). Frasa ancaman bencana alam menyiratkan ‘cerita’ bahwa alam adalah aktor yang mampu mengancam dengan membawa bencana, alam ditempatkan sebagai pelaku aktif yang seolah mampu menebar ancaman —padahal aktor utama sebuah bencana adalah manusia yang merusak alam. Berbeda dengan ‘cerita’ alternatif yang dapat diamati pada judul berita “Hutan dan Air Menghidupi Masyarakat Rantau Kermas” (Kompas, 14 Desember 2023). Kata kerja “menghidupi” yang bergaya personifikasi ini menempatkan hutan dan air sebagai aktor yang alih-alih mengancam, mereka berdua justru memberikan kehidupan untuk manusia.
Pada akhirnya, kehadiran ‘cerita’ alternatif tidak bertujuan untuk menyebut pembuat ‘cerita’ destruktif sebagai penjahat/perusak/penghancur, tetapi untuk memberikan saran (yang bermula dari kritik) agar ‘cerita-cerita’ destruktif ditulis ulang dengan memanfaatkan fitur-fitur lingual yang berwawasan ekosentris untuk ‘dituturkan’ kembali kepada dunia. Selain itu, gagasan maupun ide dalam tulisan ini tentu saja bersifat terbuka yang menanti untuk dipertanyakan maupun diperdebatkan. Sekian.

*Naskah peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri dengan judul sama.
