Cermin Kimin (Kado Ulang Tahunku)

“Brengsek, kaca apa ini?! Menipu!” tiba-tiba salah seorang di antara kerumunan massa ada yang marah dan melempar cermin yang baru dipakai mengaca ke jalan raya. Tentu saja cermin itu pecah berantakan. “Laporkan ke polisi, ini harus diusut,” teriaknya.

Tidak lama berselang, puluhan polisi sudah tiba. Tempat itu langsung diamankan. Dan ratusan orang yang masih berkerumun diminta bubar. Namun massa tak mau bubar. Mereka hanya bergerak mundur beberapa meter dari jogging track alun-alun. Dan akhirnya jalan-jalan di sekitar alun-alun macet total. Karena massa tetap tak mau bubar, akhirnya polisi mengambili belasan cermin itu dan membawanya ke kantor polisi. Anehnya, massa tetap tak mau bubar. Kerumunan itu malah merangsek, bergerak menuju kantor polisi. Mereka ingin tahu, kenapa cermin itu bisa mengubah tampilan wajah setiap orang yang mengaca. Kenapa cermin itu selalu menampilkan gambar wajah-wajah binatang buas setiap kali ada orang yang bercermin. Kepala kepolisian akhirnya turun tangan sendiri. Dia memerintahkan anak buahnya agar menyimpan cermin-cermin itu di gudang sebagai barang bukti. Dan massa diminta bubar. Semula ogah, tapi akhirnya massa mau bubar setelah memperoleh jaminan polisi akan mengusut tuntas kasus itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi, belum berhasil kasus diungkap, hal yang sama terjadi lagi keesokan harinya. Bahkan, kerumunan massa yang berebut bercermin jumlahnya dua kali lebih banyak dari hari sebelumnya. Anehnya, kini ratusan orang yang berjubel di sepanjang jogging track alun-alun malah berebut ingin mengaca, ingin melihat gambar wajahnya yang akan ditampilkan cermin itu.

Seperti hari sebelumnya, setiap kali ada orang bercermin, kaca-kaca itu tetap menampilkan gambar wajah-wajah binatang. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, orang-orang yang berebut mengaca itu kini tak lagi terusik perasaannya meskipun yang muncul pada cermin-cermin itu bukan gambar wajahnya sendiri, melainkan gambar wajah-wajah binatang. Aneh, mereka malah banyak yang merasa puas saat melihat gambar wajahnya berubah menjadi wajah kera, wajah anjing, wajah buaya, dan beragam wajah binatang lainnya. Orang-orang itu justru bangga sebab, dengan demikian, berarti mereka telah tahu dan mengenal wajah diri yang sebenarnya. Apa pun bentuk wajah yang terlihat pada cermin-cermin itu, mereka tak peduli. Bagi mereka, yang penting kini bisa melihat wajahnya sendiri, mengenali jati dirinya —sesuatu yang selama ini tak mereka ketahui.

Seperti hari sebelumnya, dari emper sebuah toko Kimin asyik sendiri menikmati pemandangan itu. Dengan bibir yang mengulum senyum, sesekali tangan Kimin sibuk membuat catatan pada sebuah notes yang sudah kumal. Tapi keasyikan Kimin kemudian terganggu saat terlihat rombongan wali kota berjalan menuju alun-alun. Di tengah kerumunan massa, wali kota menanyai satu dua warganya. Setelah itu, sang wali kota mencoba ikut mengaca di salah satu deretan cermin itu.

Melihat gambar wajahnya berubah menjadi wajah buto cakil pada tampilan cermin, raut sang wali kota mendadak berubah pucat. Dan beberapa detik kemudian, wajahnya berubah merah padam tanda naik pitam. “Ambil cermin-cermin ini dan hancurkan segera!” perintah wali kota kepada aparat keamanan yang menyertainya.

Orang-orang yang berkerumun menjadi bengong. Kemudian, “Jangan, Pak. Itu satu-satunya alat kami untuk bisa mengenali wajah diri kami yang sesungguhnya,” teriak beberapa orang hampir bersamaan.

“Ambil dan hancurkan cermin-cermin itu. Tangkap orang yang memajang kaca-kaca itu di sini. Ini perintah!” teriak wali kota kepada puluhan aparat keamanan yang masih terlihat ragu-ragu. Setelah wali kota mengulangi perintahnya disertai kemarahan, barulah aparat keamanan mengambili cermin-cermin yang dipajang berjejer itu. Namun, seperti dikomando, massa ternyata mengadang agar kaca-kaca itu tak diambil guna dihancurkan. Karena saling ngotot, masing-masing bersikukuh, akhirnya terjadi keributan dan kaca-kaca itu pun hancur berantakan. Banyak orang menangis karena merasa kehilangan pengilon, alat untuk melihat gambar dirinya yang ajaib itu.

**

Sore hari menjelang senja, saya sedang menyelesaikan laporan berita peristiwa keributan di alun-alun itu ketika seseorang mengetuk pintu, bertamu. Kepada saya, orang itu menyerahkan sebuah bingkisan dan segera minta diri. Saya segera membuka bingkisan itu. Dan saya terkejut, ternyata bingkisan itu merupakan sebuah kado. Isinya sebuah cermin berukuran 10 x 15 sentimeter disertai sebuah catatan pendek:

Aku tahu saat ini hari ulang tahunmu. Hanya cermin inilah yang bisa kuhadiahkan. Karena dituduh memancing keributan, aku kini ditahan polisi.

Dari sahabatmu, Kimin.

Ya Tuhan, haruskah cermin ini kini menjadi milikku….

Tinggalkan Balasan