Dan, Pembunuh Demokrasi adalah…

Kedua, menyangkal legitimasi politik lawan. Beberapa pertanyaan kunci pada indikator kedua ini, misalnya, apakah mereka menyebut lawan sebagai pelaku makar? Atau, apakah mereka selalu menuduh lawan politik sebagai antek asing? Atau, apakah mereka selalu menyebut lawan politik sebagai ancaman nasional dan semacamnya.

Ketiga, toleransi atau anjuran kekerasan. Pada indikator ketiga ini, ada beberapa contoh pertanyaan kunci. Misalnya, apakah mereka memiliki hubungan dengan geng bersenjata, paramiliter, milisi, gerilyawan, atau organisasi yang terlibat tindak kekerasan? Apakah mereka sekutu atau pendukung penggunaan massa untuk menyerang lawan? Apakah mereka menyetujui atau pernah memuji tindak kekerasan yang dilakukan oleh pendukungnya?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keempat, kesediaan membatasi kebebasan sipil lawan dan media. Pertanyaan kuncinya, misalnya, apakah mereka mendukung hukum atau kebijakan yang membatasi kebebasan sipil? Apakah mereka pernah mengancam melakukan tindakan hukum atau lainnya terhadap para pengkritik? Apakah mereka pernah memuji tindakan represif yang dilakukan pemerintah lain pada masa lalu atau di tempat lain.

Kasus Indonesia

Jika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan kunci dari empat indikator tersebut “ya”, maka bisa dipastikan demokrasi sedang terancam. Sebab, (para) tokoh yang sedang berkontestasi memperebutkan kekuasaan melalui mekanisme demokrasi ternyata anti-demokrasi, yang kelak akan melakukan pembusukan dan pembunuhan demokrasi dari dalam, dan perlahan. Itulah, menurut penulis buku ini, yang juga sedang terjadi di Amerika Serikat ketika rakyatnya memilih Donald Trump.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya, buku ini luput memotret dinamika politik di Indonesia, terutama pada pemilihan presiden 2014 dan 2019 dengan kontestan yang sama, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Padahal, jika dihubungkan dengan berbagai pertanyaan kunci dari empat indikator yang disusun oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, isu-isu yang mewarnai pertarungan politik dua kontestasi tersebut mendekati sama. Semoga tidak akan pernah sama.

Lalu, bagaimana cara membentengi demokrasi agar tidak dibusukkan dan dimatikan dari dalam? Salah satu yang direkomendasikan oleh buku ini adalah memantapkan fungsi partai politik sebagai penjaga gerbang terakhir dalam seleksi kepemimpinan. Artinya, partai politik jangan pernah membuka pintu bagi demagog ekstrem, baik ekstrem kanan maupun kiri, atau politikus populis kanan maupun kiri hanya demi meraup suara. Juga, partai-partai politik jangan pernah bersekutu dengan kekuatan-kekuatan ekstrem demi kapitalisasi kekuasaan. Intinya, partai politik jangan pernah mencalonkan tokoh-tokoh yang mememuhi unsur-unsur dalam empat indikator tersebut. Jika itu terjadi, maka demokrasi sedang dalam bahaya.

Tinggalkan Balasan