Para nabi dan wali membangun wilayah tempat mereka dilahirkan atau bermukim dengan cara batin. Sehingga yang semula masyarakatnya tidak aman menjadi aman karena iman, dari gelap menjadi terang hatinya, dan dari tidak beradab menjadi peradaban.
Karena memang secara bahasa Arab, tutur Habib Husein, kata ‘wali’ satu akar kata dengan ‘wilayah’. Sehingga wali berarti penguasa suatu wilayah. Kalau kekuasaannya bersifat lahir, dia disebut wali kota. Adapun jika penguasaannya bersifat batin, maka dia disebut wali Allah. Dan puncak dari seluruh wali Allah biasa disebut ‘Wali Kutub’, yakni yang menjadi kutub rujukan bagi seluruh wali Allah di seluruh wilayah (hlm. 210).

Maka, kita tidak harus bercita-cita ingin menjadi wali kota dengan membangun sebuah kota. Kita bisa juga bercita-cita menjadi wali secara batin yang membangun kota tempat kita lahir dan bermukim secara batin. Sejak ada kita di sana, pastikan wilayah itu jadi lebih baik. Kita bisa memulai dari wilayah terkecil, yaitu diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan seterusnya.
Dan kini, dari catatan beberapa riset menyebutkan bahwa lebih dari separuh muslim Indonesia belajar agama dari media sosial, khususnya para generasi milenial atau Gen Z. Oleh karena itu, Habib Husein berharap pada zaman digital ini kita berpeluang menjadi Wali Youtube, yang mendatangi subcribers dengan konten-konten sehat dan mencerahkan, yang bisa mengubah mereka dari kegelapan menuju keterangbenderangan. Sebagaimana kutipan berikut:
Lantaran orang seperti saya ini mustahil jadi Wali Kutub, paling tidak saya bercita-cita jadi “Wali Youtube”, yakni menyebarkan keimanan, keislaman, kedamaian, kemanusiaan, dan nilai-nilai luhur lainnya melalui Youtube dan media digital secara umum (hlm. 212).***
DATA BUKU
