Di sini, ngabdi adalah sebuah ekspresi kepatuhan pada seorang guru. Dan nilai kepatuhan ini dihargai cukup mahal di dalam dunia pesantren (baca:agama Islam). Kepatuhan seorang santri merupakan tolok ukur kekuatan iman. Di mana inti dari iman adalah kepatuhan.
Seorang santri yang ngabdi (abdi) akan selalu mendahulukan rasa patuhnya dari pada mendahulukan rasionya. Seorang bos besar akan lebih suka pada anak buah yang mengerjakan perintah tanpa bertanya untuk apa atau apa perlunya mengerjakan perintah itu. Hal ini sama dengan syariat Islam, di mana selain adanya hikmah dalam sebuah syariat, Allah juga berhak untuk hanya mengukur tingkat kepatuhannya melalui sebuah syariat tertentu.

Dalam dunia pesantren kita kenal ungkapan sami’na waatho’na (kami dengarkan dan kami laksanakan), tidak lain karena besarnya nilai kepatuhan seorang santri pada kiai. Tidak peduli sesulit apa pun perintah itu, pantang bagi seorang santri untuk menolaknya.
Dengan melakukan sebuah pengabdian, seorang santri berharap pada rida guru. Padahal, rida seorang kiai (guru) adalah kunci keberkahan ilmu. Seperti ucapan Imam Ali karromallahu wajhah wa rodhiyallahuanhu, bahwa rida guru adalah salah satu dari enam syarat bagi seorang santri untuk memperoleh ilmu.
Bukti melimpahnya berkah pada seorang santri yang mengabdi pada kiai cukup banyak. Di kalangan para sahabat kita mengenal Sayidina Anas bin Malik yang mengabdi pada Nabi Muhammad SAW hingga menjadi salah satu sahabat yang paling alim.
