Bahasa Arab dilestarikan sebagai bahasa “penobatan”, persisnya lantaran bahasa Arab tidak dimengerti; upacara spiritual dengan menggunakan bahasa yang lengkap ini, memanifestasikan kekuasaan dan mengandaikan sebuah pola kesadaran yang tidak rasional. Islam telah melarang penggunaan lebih lanjut mantra Shiwa dan Tantra; lantas Jawa menjawabnya dengan mengubah ayat-ayat al-Quran menjadi buku-buku mantra.
Para santri di pesantren, dengan demikian, menelan teks-teks al-Quran lewat hapalan. Santri yang berhasil adalah yang mampu melafalkannya tanpa keliru. Karena anak-anak muda ini memafhumi sedikit saja dari apa yang mereka hafalkan, kesalahan penting yang menempel pada pengucapannya itu tentu saja bersifat “magis”; alih-alih kekeliruan semata-mata dilihat sebagai “kekeliruan”, melainkan sebagai kesalahan yang menandakan ada yang tidak beres bagi kelompok, jika tidak segera dikoreksi secara manjur.

Kalimasada
Aspek kedua dari pendidikan pesantren adalah proses penafsiran (decoding) teks al-Quran, serta kehadiran bahasa Jawa yang serba membingungkan dan penuh paradoks. Sistem pendidikan ini dilukiskan dengan baik dalam halaman-halaman “ensiklopedia” Jawa yang luar biasa –berasal pada awal abad sembilan belas– yakni Serat Centhini, yang kebanyakan membahas pengembaraan para penganut Islam yang amat taat, santri (makna aslinya adalah “murid”), yang melakukan perjalanan dari satu pesantren ke pesantren lainnya, untuk menguji keterampilan masing-masing dalam menguraikan makna di balik kekusutan teka-teki, dan isyarat kata-kata yang bersifat religius.
Fungsi dari permainan lema-lema atau teka-teki berdasarkan permainan kata-kata religius itu, adalah untuk menjembatani dua tingkat pengertian. Mengambil contoh yang khas Jawa, salah satu permainan kata-kata religius yang mahsyur adalah menyangkut nama senjata gaib milik Raja Yudhistira (pahlawan dalam wayang kulit), yakni Kalimasada.
Kalimasada ini bukanlah sebuah anak panah, gada ataupun tombak, melainkan penggalan tulisan esoteris, sebuah dokumen yang tidak terpahami, tetapi memiliki kekuasaan luar biasa. (Ia bukanlah sesuatu yang “disebutkan” dalam Kalimasada sebagai sesuatu yang penting, melainkan apa yang tergores di situ, mengisyaratkan ada misi sakti yang hanya dipegang oleh orang-orang tertentu dan dalam waktu-waktu tertentu pula).
Betapa pun, sementara Kalimasada adalah simbol otentik dari tradisi budaya pra-Islam, ia toh juga menjadi acuan umum bagi lingkaran Muslim yang saleh, tetapi kini ia berbunyi sebagai Kalimat Sahadat, yakni unsur pertama dari dari lima Rukun Islam. (Bahkan, ada legenda yang melukiskan sebagaimana Yudhistira memberikan senjatanya kepada Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali utama Islam di Jawa). Contoh tebak-tebakan itu: “Kapankah Kalimasada bukanlah Kalimasada?”). Jawabnya: “Ketika ia adalah: Kalimah Sahadat”.
Maka dari itu, kebijaksanaan terdalam yang diajarkan di pesantren (dan ini malah lebih serius tinimbang religiusitas masyarakat abangan Hindu-Budha di Jawa Tengah bagian selatan) berkelindan dengan laku asketik, ritual, dan telaah teka-teki berdasarkan permainan kata-kata serta pelbagai paradoks itu (prenesan).
Istilah umum yang terakhir ini adalah semacam perasaan bahwa fenomena tidak selalu berarti apa yang nampak; apa yang sebenarnya, mungkin tidak muncul sebagai penampakannya. Salah satu temuan, misalnya, adalah paradoks ungkapan kuno yang sederhana ini: Sing ana, ora ana; sing ora ana, ana (Apa yang ada, tidak ada; apa yang tidak ada, ada).
Hal ini kerap dibayangkan seperti lema longan, yang berarti ruang di bawah kursi, meja, atau ranjang. Tebak-tebakan tentang keberadaan dan ketidak-beradaan dengan jenius diutarakan dalam bentuk teka-teki permainan kata-kata tentang wujud longan tadi, yang sekaligus juga tidak berwujud. Kursi tidak bisa hadir tanpa longan, sebaliknya longan tak muncul tanpa sebuah kursi.
Spiritualisme

