Bahtsul Masail menjadi program wajib yang terus lestari di pondok pesantren. Kegiatan tersebut telah memecahkan ribuan permasalahan yang belum ditemukan dalilnya. Di tingkat nasional, kegiatan bahtsul masail melibatkan banyak ulama yang berkumpul dan berdiskusi mengenai suatu permasalahan. Mereka membawa rujukan dari kitab-kitab besar karya ulama terdahulu. Dengan memakai bermacam argumentasi, mereka berdiskusi untuk menemukan solusi terbaik dari suatu permasalahan.
Gagasan dari ulama menjadi penting bagi umat, untuk dijadikan patokan dalam menghadapi problematika sosial-keagamaan. Misalnya dalam bersuci, menjalankan salat, zakat, atau ibadah yang lain, terdapat satu dua permasalahan yang menjadi keraguan saat melaksanakan peribadatan. Maka ulama adalah penafsir dari apa-apa yang termuat dalam Islam. Mereka memiliki kedalaman ilmu untuk memahami sesuatu secara luas, sehingga hukum di tangan ulama lebih fleksibel dan tidak memberatkan.

Lantas, bagaimana menyampaikan pendapat-pendapat ulama secara cepat? Maka zaman digital adalah jawaban solutif untuk mengantarkan pendapat ulama ke masyarakat secara cepat. Dengan kecanggihan teknologi, ilmu yang disampaikan ulama dapat disebarkan dengan kecepatan jari. Tidak terbatas ruang dan waktu, semua informasi dapat diakses melalui layar smartphone.
Dan tentu saja, alat dakwah di masa sekarang menjelma dalam bentuk website, akun media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, atau Youtube). Kehadiran platform tersebut sangat membantu masyarakat untuk memperkaya khazanah keislaman, mendengarkan pendapat ulama, atau ranah diskusi antara pendengar dan pembuat konten. Semua kegiatan tersebut dapat terjadi secara cepat dan instan.
