Empat Pertunjukan Meriahkan Harlah ke-13 Persi

Lebih lanjut, pertunjukan drama komedi yang bertajuk Tengka dipentaskan atas dasar warning perihal etika yang saat ini sudah mulai terdegradasi. “Hal kecil, seperti mengambil barang setakberharga apapun, itu ada etikanya,” ungkap Abd Gafur Sajjad Al-Farisi selaku sutradara.

Sementara itu, pertunjukan teater dengan judul Wasiat Darah dipentaskan sebagai upaya penyadaran terhadap santri yang sudah tidak lagi militan pada organisasi, khususnya di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Setiap masa keemasan, masa kemunduran, adalah sebuah masa yang pasti akan datang. Maka dari itu, kemunduran itu jangan sampai terjadi pada masa kita,” ungkap Rizal Fadil, selaku sutradara.

Sebagai pamungkas, pantomim dengan tajuk Two Seoul One Heart yang disutradarai juga oleh Lukman Hakim, diangkat dalam rangka untuk membumikan nilai-nilai pluralisme. Keberagaman identitas, ungkap Lukman, tidaklah patut jika dijadikan faktor perpecahan. “Binneka Tunggal Eka, berbeda-beda, tapi kita tetap satu,” ungkapnya.

Empat pertunjukan ini memperoleh sambutan antusias yang datang dari berbagai komunitas seni di Pesantren  Annuqayah. Budi, misalnya, seniman-santri yang terdata sebagai santri  Annuqayah Lubangsa Selatan, mengatakan, bahwa pementasan yang dihadirkan oleh Komunitas Persi ini memanglah sangatlah perlu untuk diangkat sebagai bukti bahwa santri juga peka terhadap problem yang terjadi di masyarakat, khususnya di Madura.

Tinggalkan Balasan