Biasanya kitab ini dikaji oleh santri dewasa atau tingkat Ulya yang telah mendekati masa pernikahan. Sebab, jika diberikan terlalu terlalu dini, dikhawatirkan akan memacu pola pikir anak yang sebenarnya belum siap untuk menikah baik secara mental maupun fisik. Dib erikannya kepada santri dewasa sebab dalam kitab ini mengandung pedoman suami istri dalam menjaga keharmonisan dan doa-doa sehingga hal tersebut mendatangkan pahala dari Allah SWT.
Kitab ini secara gamblang membahas bab pernikahan yang mungkin dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Kajian yang ada di kitab ini mulai dari pendidikan seks, tata aturan, adab berhubungan, posisi, kenikmatan, dan larangan. Tak hanya itu, waktu yang boleh, dianjurkan, dan dilarang hingga rahasia penciptaan gadis pun dikupas di sini. Tidak salah jika kitab ini tepat untuk pasangan muda dan bahkan orang dewasa yang sudah siap menikah.

Di mukadimmah, beliau mengulas kesunahan menikah berdasar Hadis dan Al-Qur’an. Di sana pula dijelaskan alasan turunnya QS Al Baqarah ayat 223 menjadi penegas bahwasanya orang-orang beriman diperbolehkan menggunakan berbagai apapun dalam berhubungan seks, namun tidak diperbolehkan memasukkan zakar ke lubang dubur. Hal ini lantaran kaum Yahudi yang kala itu menceritakan berbagai gaya dalam menggauli istrinya dengan berbagai gaya hingga dari belakang atau lubang dubur.
Dalam kitab ini, beliau menganjurkan umat muslim untuk menikah guna meneruskan dan mengabadikan keturunan manusia serta meneruskan hubungan yang berlanjut. Dengan pernikahan pula menjadikan manusia mengikuti Sunah Rasul yang setiap hal yang dilakukan bernilai ibadah. Hingga pernikahan disebut sebagai ibadah yang tidak pernah putus. Sebab apa yang sebelumnya tidak boleh dilakukan dan menimbulkan dosa setelah menikah malah menjadi ibadah dan mendapat pahala.
Meskipun hal yang dilakukan berniali pahala namun untuk melakukan hubungan intim tidak semua waktu baik untuk bersenggama. Ada malam yang tidak dianjurkan di antaranya adalah malam hari raya. Aktivitas tersebut pun tidak serta merta langsung memasukkan zakar, namun harus memperhatikan kondisi wanita agar senang dulu. Istilah umumnya adalah foreplay dengan memainkan tubuh wanita dan diakhiri dengan membaca basmalah ketika bercocok tanam. Hal ini dilakukan agar ketika bersenggama tidak ada setan yang ikut dalam aktivitas tersebut. Dalam aktivitas tersebut pun ada doa khusus yang disunahkan.
Memiliki anak sesuai dengan gender yang diinginkan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pasangan suami istri. Hal ini pun diulik dalam kitab ini. Lelaki menjadi kunci dalam menentukan gender sang calon anak.
