Festival Dunia Santri 2026: Workshop Penulisan Kreatif

Upaya merawat tradisi literasi di kalangan santri kembali digelorakan melalui kegiatan Workshop Penulisan Kreatif yang diselenggarakan pada Minggu, 19 April 2026, pukul 10.00–15.00 WIB. Workshop diadakan di Pondok Pesantren Daar Al-Fikr, Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Festival Dunia Santri 2026 yang diinisiasi oleh jejaring duniasantri sebagai ruang tumbuh bagi gagasan, kreativitas, dan ekspresi santri dalam lanskap literasi kontemporer.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Workshop ini sekaligus menjadi pembuka resmi rangkaian kegiatan Festival Dunia Santri 2026, sebuah perhelatan literasi dan kebudayaan santri yang akan berlangsung sejak 19 April hingga berakhir pada 28 Oktober 2026.

Festival Dunia Santri 2026 direncanakan akan digelar di sejumlah kota, di antaranya Jombang (Jawa Timur), Yogyakarta, Cipasung (Tasikmalaya), Depok (Jawa Barat), Banten, dan Jakarta. Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi simpul pertemuan gagasan, karya, dan jejaring antar-santri dari berbagai daerah.

Workshop ini menghadirkan dua narasumber, Hilmi Faiq dan Beni Satria, yang akan membimbing peserta dalam memahami sekaligus mempraktikkan teknik penulisan kreatif.

Secara khusus, workshop ini berfokus pada pengembangan penulisan cerita pendek (cerpen) dan puisi sebagai dua bentuk ekspresi sastra yang paling dekat dengan pengalaman keseharian santri sekaligus memiliki daya jelajah estetika yang luas.

Materi workshop menekankan bahwa karya sastra, khususnya cerpen dan puisi, bukan sekadar bentuk ekspresi artistik, melainkan medium reflektif yang mampu merangkum gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup dalam cara yang padat namun bermakna.

Melalui cerpen, realitas dapat diolah menjadi narasi yang hidup dan menggugah, sementara puisi menghadirkan pemadatan bahasa dengan kekuatan imaji, ritme, dan kedalaman rasa. Keduanya menjadi jalan bagi santri untuk menafsirkan dunia—baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Kehidupan sehari-hari—dengan segala dinamika perjuangan, persahabatan, cinta, hingga konflik batin—menjadi ladang inspirasi yang tak pernah habis untuk diolah menjadi cerita maupun puisi.

“Sering kali realitas yang paling dekat justru luput dari perhatian. Melalui cerpen, kita diajak untuk melihat kembali, merasakan ulang, dan memaknai pengalaman hidup secara lebih dalam,” demikian salah satu poin dalam Term of Reference materi workshop.

Lebih jauh, workshop ini juga mendorong peserta untuk mengasah kepekaan sosial dan emosional. Penulisan cerpen dan puisi dipandang sebagai cara untuk tidak hanya merekam realitas, tetapi juga menyampaikan pesan moral serta membangun empati terhadap pengalaman orang lain.

Sebagai bagian dari proses kreatif, peserta diajak mengeksplorasi ide, membangun alur cerita, menghidupkan tokoh, serta merangkai larik-larik puitik yang tidak hanya komunikatif, tetapi juga estetis. Dengan demikian, menulis tidak berhenti pada aktivitas teknis, melainkan menjadi laku intelektual dan kultural.

Perlu diketahui, rangkaian agenda Festival Dunia Santri 2026 di antaranya meliputi Workshop Penulisan Kreatif, Residensi Penulisan Santri, Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren, Diskusi, Seminar “5000 Tulisan Santri” yang dipublikasikan di duniasantri.co, serta Pertunjukan Drama Mini “Hubbul Wathan”. Keseluruhan agenda ini dirancang sebagai upaya berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem literasi pesantren yang inklusif dan berdaya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang produktif sekaligus inspiratif bagi para santri dan pegiat literasi dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif. Lebih dari itu, workshop ini menjadi langkah awal dari rangkaian panjang Festival Dunia Santri 2026 dalam membangun ekosistem sastra yang hidup di lingkungan pesantren.

Melalui kegiatan ini, jejaring duniasantri kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang-ruang literasi yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga membentuk cara pandang—bahwa menulis adalah cara lain untuk memahami kehidupan.

Tinggalkan Balasan