Flowery Islam: Islam Nusantara ala Azyumardi Azra

Meski secara “praktik keagamaan” punya kekhasan, namun secara “kerangka idealistik” Islam Nusantara sama dengan Islam di belahan dunia yang lain. Syahadatnya sama. Rukun Iman dan Islamnya sama. Nabi dan Rasulnya sama. Al-Qur’an-nya juga sama. Pada level agama ini, ya Islam hanya satu.

Namun, pada level beragama, Islam beragam. Dan, di antara keragaman Islam itu adalah Islam Nusantara yang dalam praktik keberislaman masyarakatnya menunjukkan wajah Islam yang, sebagaimana disebut Azra, berbunga-bunga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Islamisasi yang Evolusioner

Ekspresi masyarakat Muslim Nusantara yang menunjukkan praktik flowery Islam, yang kaya dengan warisan tradisi lokal, tidak lepas dari proses Islamisasi Nusantara itu sendiri. Proses Islamisasi yang, menurut Azra dalam bukunya Islam Nusantara, “…merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner.”

Maksudnya, Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui proses yang berangsur-angsur dan damai, bukan revolusioner yang cepat namun cenderung memaksa.

Para wali penyebar Islam di Nusantara, menurut Azra, “…mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dalam bentuk eksklusivitas profetik, melainkan umumnya dalam bentuk kompromi dengan kepercayaan-kepercayaan lokal yang mapan….” Mereka mendakwahkan Islam dengan cara damai. Mereka berkompromi dengan budaya kepercayaan lokal, bukan berarti membenarkan agama sebelumnya, hanya agar masyarakat masuk Islam dahulu, untuk selanjutnya perlahan-lahan dibimbing dan diluruskan dalam jalan Islam.

Pola dakwah kompromi seperti ini berlangsung untuk kalangan masyarakat umum, sementara di pesantren para wali mengedepankan dakwah disiplin untuk para santrinya yang merupakan kader-kader ulama selanjutnya.

Dakwah kompromi dalam Islamisasi Nusantara membuat corak penerimaan Islam di Nusantara bukan konversi total, dalam arti masuk Islam dan meninggalkan secara penuh praktik keagamaan sebelumnya. Melainkan, sebagaimana penjelasan Azra, yang terjadi adalah adhesi atau konversi dalam Islam tanpa meninggalkan praktik keagamaan lama yang tidak bersifat profetik. Itulah mengapa banyak praktik pra-Islam yang sudah dalam kemasan Islami mewarnai praktik keagamaan masyarakat Muslim Nusantara.

Seperti arsitektur masjid-masjid di Jawa yang turut diperindah dengan corak arsitektur masa Hindu-Budha era Majapahit. Atau, bahkan ritus kepercayaan lokal sebelum Islam namun sudah berisi tauhid atau keimanan Islam. Seperti Batayok dalam masyarakat Muslim Bolaang Mongondow, pada dasarnya merupakan tradisi pengobatan yang sudah ada sejak sebelum Islam, namun tetap dipertahankan oleh masyarakat Muslim setempat dengan pemaknaan yang memberi kesembuhan Kitogi Barakat (Maha Memberkati) adalah Allah SWT.

Jaringan Ulama Nusantara

Jaringan ulama merupakan teori dalam diskursus Islam Nusantara yang ikonik dengan Azra. Jika mendasari pada gagasan jaringan ulama yang diajukan Azra, maka perkembangan praktik keagamaan Muslim Nusantara yang flowery Islam tidak lepas dari pengaruh jaringan ulama Nusantara.

Tinggalkan Balasan