Pada waktu saya masih menjadi santri aktif di Pesantren Nurul Jadid, tepatnya di asrama Ma’had Aly asuhan Kiai Romzi, pengajian beliau selalu dinantikan oleh para santri. Kendatipun kitab yang diampuhnya terbilang sulit, seperti Ihya’ Ulumiddin, Tuhfa al-Tullab, al-Iqna’, hingga kitab karya beliau As-Tsamrah al-Yani’ah, al-Istilah, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, ketika memasuki bulan Ramadhan yang oleh pesantren kemudian disebut bulan kitab, pengajian Kiai Romzi menjadi penutup dari seri pengajian khataman kitab di Pesantren Nurul Jadid. Meski demikian, ghirah santri untuk mengikuti pengajian beliau semakin memuncak. Alih-alih terkantuk, justru humor beliau melampaui rasa kantuk santri. Apalagi, ketika menggunakan logat dan dialek khas Madura.

