
Agen Pendidikan
Di bawah kepemimpinan Kiai Baidawi, terjadi lompatan-lompatan berarti di masanya. Pada 1961, misalnya, Pondok Banyuanyar memelopori berdirinya madrasah di beberapa daerah di Madura, seperti di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, dan Sampang. Saat itu, Pondok Banyuanyar berperan sebagai agen dari pendidikan pondok pesantren yang dapat terjangkau oleh lapisan masyarakat yang tidak memungkinkan menimba langsung ke pondok pesantren. Meski begitu, sistem pendidikan di Pondok Banyuanyar masih mempertahankan tradisi sebelumnya, focus terhadap pendalaman pengetahuan agama melalui sistem pengkajian kitab kuning.

Kini, Pondok Banyuanyar berada di bawah asuhan KH Muhammad Syamsul Arifin, yang memimpin pondok sejak 1980. Di bawah kepemimpinan Kiai Syamsul Arifin inilah Pondok Banyuanyar mulai menyandang nama resmi Darul Ulum. Darul Ulum juga dijadikan nama untuk institusi-institusi yang dikembangkan oleh Pondok Banyuanyar.
Pondok Banyuanyar juga terus mengembangkan diri sesuai dengan wasit pendirinya. Pengembangan sarana dan prasarana serta sistem pendidikannya terus dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, Pondok Banyuanyar kini sudah memiliki asrama santri yang dilengkapi dengan auditorium, gedung madrasah, wc umum, dan beberapa bangunan penunjang lainnya. Bahkan, ada khusus asrama untuk anak yatim.
Sistem pendidikannya juga terus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, Pondok Banyuanyar juga telah menyelenggarakan sistem pendidikan formal dan sistem pengembangan pendidikan spesialisasi bakat dan minat santri. Jenjang pendidikannya juga sangat lengkap, mulai pendidikan untuk anak usia dini hingga perguruan tinggi, misalnya Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA).
