Ghurur dan Kematian Budaya: Perspektif Spengler dan al-Ghulayaini

Al Ghulayaini: Ghurur dan Keterpurukan Umat.

Syekh Mustofa al Ghulayaini dikenal sebagai pemikir dan sastrawan ulung dari Suriah yang gemar mengkritik umat Islam pada zamannya. Dengan cara pandang yang berbeda dari Spengler, al Ghulayaini menekankan kritiknya pada parasit internal yang menjangkiti umat Islam dan menyebabkan kemunduran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di antaranya yang disebut adalah “ghurur” (ilusi atau penipuan diri). Menurutnya, dalam diri umat Muslim, ghurur mewujud beberapa bentuk.

Pertama, ghurur intelektual. Di sini, umat Muslim merasa paling benar dalam pemahaman agama dan puas dengan ilmu pengetahuan yang sedikit. Keadaan ilusi ini berlanjut pada perasaan puas dan segalanya sudah dimiliki dengan sempurna. Ini adalah bentuk kebodohan yang nyata di tengah dunia dan pengetahuan yang terus berkembang.

Kedua, ghurur etika. Di sini, umat Muslim terbuai dengan masa lalu zaman keemasan tanpa adanya upaya mengikuti jejak para pendahulu. Parahnya lagi hal ini semakin terlihat dengan klaim diri sebagai generasi paling mulia, padahal di dalamnya nihil akhlak luhur, sikap adil, dan wujud kontribusi nyata untuk masyarakat.

Ketiga, ghuror spiritual. Di sini, umat Muslim menjadikan ibadah hanya sebagai ritual keagamaan saja tanpa dorongan menuju tindakan positif. Penghayatan ibadah nampak semakin berkurang dan cenderung menjadi aktivitas seremonial belaka.

Melihat fenomena tersebut, al Ghulayaini berpendapat bahwa keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh  ilusi-ilusi kemandekan intelektual dan moral ini. Penyakit ini adalah penghambat utama generasi muda untuk menggapai kebangkitan peradaban zaman. Parahnya lagi generasi muda ini terlalu nyaman dengan keadaan, menolak introspeksi, dan enggan menghadapi kenyataan pahit.

Ghurur: Akar Kematian Budaya

Tinggalkan Balasan