Gumbregan

“Ya sudah, terserah kamu maunya bagaimana. Tetapi, pikirkan nama baik bapakmu. Masa anak cucunya menyedekahkan seekor ayam pun tidak mampu. Wak mau pulang dulu.”

Wak Hasyim sudah tidak bernafsu berbantah denagn keponakannya itu. Rosyid masih duduk di atas lincak teras rumah. Ia belum memasak nasi dan lauk-pauk. Ayamnya pun belum disembelih. Bahkan masih memakan dedak sisa tadi pagi. Rosyid hanya melamun—menerawang jauh bagaimana ia harus mendapatkan bahan masakan untuk ambengan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentulah Rosyid mafhum, tidak salah apa yang dikatakan uwaknya. Nama baik bapaknya pasti akan ikut disebut-sebut bila dirinya memakai ayam betina kurus untuk ingkung. Namun, Rosyid juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan uang untuk keperluan ambengan.

***

Azan Maghrib sudah menggema dari pelantang suara. Kaum Adam menyiapkan keperluan pengajian nanti malam. Seruan selawat makin menggema dari pengeras suara. Sementara ibu-ibu berduyun-duyun datang membawa ambengan milik mereka untuk dimakan sama-sama selepas pengajian.

Sebelum ke masjid, Wak Hasyim menyempatkan diri mampir ke rumah Rosyid. Ia ingin melihat ambengan Rosyid sebelum dibawa ke masjid. Berkali-kali Wak Hasyim mengetuk pintu, namun tak ada respons dari empunya rumah. Tetiba kecamuk melanda batinnya. Wak Hasyim memicingkan mata. Ia menoleh ke bawah pohon mangga—tempat ayam Rosyid dikurung sore tadi.

Lampu senter Wak Hasyim memeriksa tiap jengkal kurungan. Matanya makin terbelalak ketika mengetahui ayam betina Rosyid masih mendekur di sana. Ayam itu tampak gelisah setelah lampu senter Wak Hasyim diarahkan tepat di matanya. Darah Wak Hasyim mendidih. Ia gegas menuju masjid untuk mencari Rosyid.

Pelataran masjid sudah penuh sesak oleh jemaah. Wak Hasyim menjelajahi tiap sudut area masjid. Orang-orang berkasak-kusuk melirik Wak Hasyim. Ia tahu, orang-orang pasti sedang membicarakan Rosyid yang tidak membawa ambengan. Betapa Wak Hasyim ikut menahan malu akibat ulah keponakannya itu.

Usai salat Isya, Wak Hasyim kembali mencari keberadaan Rosyid. Rupanya ia tengah khusyuk berdoa di saf paling ujung. Suaranya senyap. Rosyid sedang menyelami nasihat demi nasihat yang keluar dari bibir mubaligh.

“Kamu enggak malu ada di sini?” bisik Wak Hasyim serupa desah, namun masih bisa sampai ke telinga Rosyid. Rosyid membuka mata, melirik sekilas. Dahinya mengerut—antara kaget dan bingung. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Wak Hasyim menunggu jawaban dari Rosyid. Orang-orang di belakang kembali berkasak-kusuk melihat tingkah antara uwak dan keponakan itu.

Tinggalkan Balasan