GURU KETABAHAN
Sungai memberikan air yang jernih
Tapi aku sungkan membangun toilet
Angin yang sejuk begitu berharga kala kemarau tiba
Namun aku memilih berjemur di pantai menikmati dosa

Wahai guru yang merahasiakan lukanya
Aku mendengar rintihanmu di sela suara serangga
Tersayat oleh tingkah kami yang engkau maafkan
Terkoyak oleh ulah kami yang nakal
Dengan sajadah lusuh kau mengetuk langit yang tak berpintu
Mengemis Robbana Rabbana di sujud sebelum akhirnya kau bangkit memijat lembut keningmu
Malam yang nyenyak milik dengkuran muridmu
Malam yang panjang untuk doamu
Engkau mengayuh sepeda ke sekolah berteman dengan sepi
Mendahului bayangan yang belum sempat dilukis mentari
Merasa dirimu sebagai contoh yang akan diteladani oleh murid yang kau ajari
Dan hasilnya mengecewakan, namun engkau tetap tabah hati
Maafkanlah…
