Gus Baha, Sang Kutu Ilmu Indonesia

Kealiman Gus Baha tentu tidak lagi memerlukan tanda tanya. Indikasinya, meskipun Gus Baha tergolong atau berasal dari santri yang tanpa pangkat, namun kedudukannya sangat urgen, yakni sebagai bagian dari jajaran dewan tafsir nasional.

Tifak hanya itu, Prof Quraisy Syihab juga mengatakan bahwa Gus Baha, selain posisinya sebagai mufassir, kedudukannya juga sebagai mufassir faqih. Dengan kehebatan itu, Gus Baha bisa menguraikan tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum. Bahkan, para doktor dan pakar Al-Qur’an pun mengakui kehebatannya itu. Ini juga yang membuat saya pribadi menganggap Gus Baha sebagai “Kutu Al-Qur’an Nusantara”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sampai saat ini, Gus Baha telah berhasil menulis beberapa kitab. Di antara karya-karyanya itu; Hafadzana li Hadzal Mushaf li Bahauddin Nur Salim sekaligus kitab tafsir Al-Qur’an versi UII. Dalam karyanya ini, Gus Baha ingin meletakkan karakteristik rasa Indonesia di dalam tafsir dengan tidak mengubah makna otentik Al-Qur’an itu sendiri.

Terakhir, hal yang membuat saya kagum dengan Gus Baha adalah caranya mengisi kajian. Gus Baha selalu membawa kitab kuning (menyesuaikan dengan tema yang akan dibahas) ketika mengisi kajian. Kemungkinan, hal ini dilakukan karena dua hal. Pertama, sebagai referensi yang pasti dan sebagai alat ukur argumentasi dan bahasan yang sedang dikaji. Kedua, penyambung sanad terhadap guru-gurunya sekaligus pengarang kitab.

Terakhir sekali, saya suka gaya berpakaian dan gaya bersongkok Gus Baha. Wassalam…

2 Replies to “Gus Baha, Sang Kutu Ilmu Indonesia”

Tinggalkan Balasan