Gus Hikam Mencari Surga

“Sa—saya belum,” Gus Hikam menghentikan ucapannya sembari mengusap air mata di kedua pipinya, “Saya belum memperlakukan ibu saya dengan baik, Kiai.”

“Apa maksudmu, Gus? Tidakkah engkau seorang pendakwah, yang selalu mengajarkan jemaahmu untuk berbuat baik kepada ibu dan bapak? Mengapa engkau belum memperlakukan ibumu dengan baik?” Abah Yai memotong ucapan Gus Hikam, karena tidak percaya seorang dai semacam Gus Hikam belum memperlakukan ibunya dengan baik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pikiran Gus Hikam berputar pada hari di mana ia hendak berangkat haji.

“Kemarin, saya bertekad untuk berangkat haji dalam keadaan ekonomi yang masih serba kekurangan. Pada saat yang bersamaan, ibu saya sakit. Namun, saya tetap bersikeras untuk pergi ke Tanah Suci,” ungkap Gus Hikam.

Masih terngiang dalam pikiran Gus Hikam ketika ia lebih mementingkan pergi ke Tanah Suci daripada merawat ibunya yang sedang sakit. Kala itu, Gus Hikam amat mendambakan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci, mencium Hajar Aswad, dan salat di dekat Kakbah.

“Apa kau menginginkan mengunjungi Tanah Suci, wahai anakku?” tanya ibunya.

Gus Hikam hanya mengangguk sembari menatap lekat wajah renta ibunya.

“Kau juga menginginkan surga?” lanjut ibunya.

Kali ini tak ada respons dari Hikam. Ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jawaban apa pun untuk ibunya. Ia tahu, bahwa ibunya tak memiliki uang yang cukup untuk memberangkatkan dirinya ke Tanah Suci. Untuk itu, siang dan malam waktunya ia gunakan untuk bekerja, demi mengumpulkan uang untuk berangkat haji. Meskipun sibuk bekerja, Gus Hikam tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat.

Akibat kesibukan Gus Hikam dalam mengumpulkan uang dan memperbanyak amal ibadah, ia sudah jarang memperhatikan ibunya. Ia jarang sekali ada di rumah. Pergi selepas subuh, dan pulang hingga larut malam. Bagi Hikam, wajib rasanya mengunjungi Tanah Suci, apalagi ia seorang pendakwah. Tak lengkap rasanya jika seorang pendakwah tak menyandang gelar “Haji”.

Hingga saat impiannya hampir terwujud, tepatnya 40 hari sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci, ibunya jatuh sakit. Gus Hikam dilanda kebimbangan. Di satu sisi impiannya sudah hampir terwujud, namun di sisi lain ibunya tak ada yang merawat. Akhirnya Gus Hikam memutuskan untuk tetap berangkat ke Tanah Suci. Ia bisa menitipkan ibunya kepada tetangganya selama ia di Tanah Suci.

“Jadi, kau memilih berangkat haji daripada mengurus ibumu yang sedang sakit?” pertanyaan Abah Yai membangunkan lamunan Gus Hikam.

Abah Yai menatap tajam wajah Gus Hikam. Tak ada jawaban keluar dari mulut Gus Hikam. Wajah Abah Yai seperti kecewa mendengar pengakuan Gus Hikam terkait keputusannya itu.

“Kau bukan ahli surga, wahai Gus Hikam.” Suara Abah Yai sedikit meninggi, disertai dengan penekanan.

Tinggalkan Balasan