Bahkan, tak sedikit pula jamaah Gus Iqdam yang nonmuslim dan ingin belajar Islam sebelum bersyahadat. Selain, terdapat jejak digital di media sosial, hal ini juga disaksikan oleh KH. Musleh Adnan (penceramah kondang asal Pamekasan, Madura), yang menyatakan dalam salah satu ceramahnya bahwa majelis taklim Gus Iqdam tidak hanya disesaki oleh kaum muslim.
“Gus Iqdam Blitar merangkul para pemuda, bahkan orang nonmuslim juga ikut mengaji. Orang-orang nonmuslim (yang ikut pengajiannya) itu sekarang sudah hampir masuk Islam. Penyampaiannya santai dan kalem. Artis-artis juga banyak yang ikut, bahkan pelawak-pelawak (Jawa Timur) seperti Cak Percil juga hadir ke majelisnya. Gus Iqdam bilang ke jamaahnya yang didominasi para pemuda itu, ‘Tidak keren kalau tidak salat’, akhirnya kawula muda tersebut malu untuk tidak salat,” tutur KH. Musleh Adnan dalam sebuah acara Pengajian Umum di Bangsalsari, Jember pada Minggu (16/7/2023).

Kepada setiap jamaah yang hadir di majelisnya, Gus Iqdam tidak pernah secara tegas menyuruh agar mereka berhenti total dari perbuatan maksiatnya. Gus Iqdam seakan memberi kesempatan agar mereka menjemput sendiri hidayah-Nya, tanpa paksaan dan rasa menakut-nakuti. Yang diterapkan selama ini oleh Gus Iqdam adalah dengan melatih pembiasaan para jemaah untuk menahan diri agar tidak berbuat maksiat, minimal saat hadir ke pengajian.
“Prinsip mengaji di sini, tidak boleh ada tindak kriminal. Yang masih suka maling, khusus saat sedang mengaji di Sabilu Taubah, jangan maling. Sepulang mengaji, jangan mabuk dulu, hindari judi, dan tahan untuk mojok-mojok sama pacar. Minimal satu malam saja saat hadir di Sabilu Taubah. Syukur-syukur jika bisa berhenti total,” demikian tuturnya yang kerapkali disampaikan.
