Sontak Mbah Setu memeluk cucu lelakinya itu. Tak dinyana, orang sebodoh dirinya akan memiliki cucu seorang dokter. Orang sedesa akan mengelu-elukan dirinya. Rasanya segala lelah dan kegelisahan lantaran berpisah dengan anak-cucu selama ini terobati dengan berita gembira ini.
“Untuk itu kami datang ke mari, Pak. Kami minta doa restu. Doakan cucumu ini nanti lancar kuliahnya,” pinta Surlopo bersungguh-sungguh seraya menyeruput es degan.

Mbah Setu dan Mbah Nem mengangguk-angguk bangga.
“Selain minta doa, kami juga minta dukungannya. Minta bantuannya,” imbuh Surlopo.
Kening penuh keriput kedua orang tua itu semakin berkerut-kerut karena mengernyit untuk memahami ucapan anaknya yang baru pulang dari Kalimantan itu.
“Biaya masuk kuliah kedokteran begitu mahal, Pak, Mak. Butuh uang ratusan juta.”
Dahi kedua orang tua itu semakin tampak keriput.
“Jauh-jauh kami datang ke sini bermaksud meminta sepetak lahan di ladang itu untuk tambahan biaya masuk kuliah,” Surlopo terus berkata-kata.
Mbah Setu dan istrinya saling beradu pandang untuk menyelami pikiran anaknya. Dan seketika itu raut bahagia yang menghiasi wajahnya berangsur-angsur memudar. Ternyata harapan untuk ditemani anaknya di penghujung usia ini semu belaka. Harapan-harapan yang disemai hari demi hari itu ternyata tak lebih dari sekadar harapan senyap. Tiba-tiba langit biru tersaput mendung gelap. Suasana alam semesta berubah muram, semuram suasana hati Mbah Setu dan istrinya.
Bantur, 15/10/20.

Mbah Setu..
anak yang membahagiakan, sukses dirantau atau dekat untuk selalu bisa merawat ortu?*
ya..tapi karena tuntutan profesi, ekonomi, dan lain sebagainya, hidup harus memilih dan berisiko dikeduanya. thats a life..
*kalau bisa, sukses dan dekat dengan ortu, hehehe..bukan begitu, Kang Bisri?
Nggeh leres. Semoga sukses di tanah sendiri….