Hari Santri 2021 (2): Tradisi Pesantren dan Kemaslahatan Umat

Dalam berbagai literatur sejarah dikatakan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keberagamaan, melainkan juga sebagai ruang pembentukan manusia. Ahmad Dahri (2020) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada tiga pilar kurikulum pesantren yang sangat penting dalam membangun kerukunan umat, di antaranya adalah tasawuf, fikih, dan ilmu kalam. Ketiganya bermuara pada turunan-turunan dari filsafat. Faizin Ainun Najib (2019) menegaskan bahwa pendidikan di dalam pesantren tidak hanya bermuara pada teks al-Quran dan Hadis, tetapi juga kondisi sosial sebagai ruang kehidupan yang luas dan dinamis.

Mula-mula kita perlu memahami bagaimana pendidikan pesantren menjadi— bahkan bukan hanya sebagai alternatif,  melainkan sebagai— solusi kemaslahatan. Karena kehidupan yang majemuk memaksa setiap manusia untuk berkembang dan mampu menyesuaikan diri, tanpa harus meninggalkan citra diri sebagai manusia. Manusia sebagai mikrokosmos tentu memiliki keluasan ruang dan berpikir dalam merespons setiap kejadian yang ditemuinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren dengan ragam tradisi menawarkan sikap dan respons terhadap segala perubahan. Kita tahu, dari masa prapenjajahan, sampai akhirnya pesantren menjadi penyumbang atas berdaulatnya bangsa Nusantara dengan berpegang teguh pada kebinnekaan, hal yang menjadi landasan dan dasar bergeraknya adalah kemaslahatan.

Tinggalkan Balasan