Hari Santri, Perspektif Mbah Moen

Menurut Mbah Moen, Hari Santri perlu dikenang sebab untuk memperingati fatwa ulama bahwa hukum menjunjung dan membela tanah air adalah fardhu ‘ain. Karena bagaimana pun, Oktober—sebagai bulan lahirnya Hari Santri/Resolusi Jihad— menurut Mbah Moen mempunyai nilai yang spesial bagi umat Islam. Mbah Moen sendiri mendefinisikan atau memposisikan bulan Oktober sebagai bulan peringatan yang sakral.

Bahkan, Mbah Moen juga mengaitkan bulan Oktober dengan sejarah awal perjuangan Nabi Muhammad SAW di waktu silam. Memang, dalam sejarahnya Nabi Muhammad memulai menancapkan tonggak perjuangannya di Madinah bertepatan pada bulan Oktober.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kutipan Mbah Moen kurang lebih seperti ini, “Bulan Oktober merpakan bulan peringatan. Nabi memulai, mentancapkan tonggak perjuangan dimulai dari kota al-Madinatil Munawwaroh. Nabi hijrah adalah bertepatan bulan Oktober. Ini indahnya, ini bulan apa ini?,,,Oktober…Bulan untuk mencanangkan perjuangan, memperjuangkan tanah air hukum agama Islam wajib adalah bulan Oktober.” (Channel YouTube PP Al-Anwar Sarang Rembang)

Begitulah relevansi bulan Oktober sebagai bulan peringatan (Hari Santri dan Sumpah Pemuda) menurut perspektif Mbah Moen dalam konteks bangsa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa relevansi yang dijabarkan Mbah Moen tidak lain dan tidak bukan menjadi titik awal yang harus disyukuri; bahwa Indonesia benar-benar menjadi negara yang kebangkitannya dimulai dari anak-anak muda dan kaum santri.

Tinggalkan Balasan