Hidup adalah Kebenaran Kolektif?

Pandangan ini, menurut Martin, bermasalah pada komposisi dari sistem dunia game yang ternyata bisa mengalami error dan semacamnya yang tidak ada dalam dunia kita.

Kemudian, dalam sebuah artikel berjudul “What Is Simulation Theory? Are We Living in a Computer Simulation?” Mike Thomas menyuguhkan beberapa antitesis tentang hal itu. Bahwa, jika segala yang kita ketahui adalah simulasi, maka simulator pasca-manusia membutuhkan banyak sekali komputasi untuk itu, dan tidak terbayangkan teknologi macam apa yang mengoperasikan komputer sebanyak itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara, adanya teknologi yang mampu mendeteksi dan bahkan menghentikan gejala alam berarti juga meniscayakan pemberhentian simulasi secara mendadak sebelum simulator menciptakan dunia yang lain yang pada akhirnya kenyataan adalah kosong.

Masalahnya, tidak ada bukti logis bahwa kenyataan ini bukan simulasi. Artinya, jika sistem itu terstruktur, kemiripan antara dua dunia tentu niscaya bahkan tanpa disadari oleh makhluk dalam dunia itu. Dalam filsafat, dikenal prinsip Gottfried Leibniz tentang Identity of The Indiscernible yang artinya jika dua objek memiliki sifat tidak bisa dibedakan, maka sejatinya itu adalah satu.

Dengan demikian, kenyataan dapat disebut sebagai hierarki kausal yang bertumpu pada logika formal dan non-material, yakni simulasi atau gambaran suatu sistem dari satu realitas logis yang formal. Terlihat tidak beda jauh dengan pandangan bahwa kenyataan adalah ide, bayang-bayang, juga ilusi. Namun dunia simulasi terlihat universal serta didukung dengan fenomena baru dalam gaya hidup hari ini.

Kebenaran Kolektif 

Tinggalkan Balasan