Hijrah Cinta

Aku beserta rombongan yang tidak terlalu banyak mulai melakukan perjalanan. Dengan sangat hati-hati, di malam itu aku turut serta dalam sebuah kelompok hijrah. Di malam yang begiti dingin, aku meninggalkan kampung halamanku yang sangat aku cintai. Tetapi karena suasana yang tidak memungkinkan dan demi mempertahankan akidah dan keyakinan, aku pun mantap untuk hijrah.

Selangkah demi selangkah, gurun yang terkadang tidak bersahabat itu aku lalui. Tiba-tiba aku ingat dengan lelaki tampan yang melamarku. “Apakah ia turut hijrah bersama rombongan lain?” pikirku di sisa sengal napas karena kepayahan melewati jalan berliku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku yakin, bahwa lelaki yang melamarku itu juga sudah melakukan perjalanan. Setelah beberapa hari lamanya, akhirnya aku dan rombongan sampai di Yatsrib. Aku merasa lega. Karena saudara-saudara muslim di sini begitu senang menyambut kami. Aku dan rombongan disambut bagaikan saudara sendiri.

Sehari setelah aku tiba di kota ini, lelaki yang melamarku dulu datang kembali. Aku yang juga mencintainya menerima ia dengan sepenuh kasih. Berharap bahwa di masa-masa berikutnya kami bisa membangun keluarga sakinah, mawadah, warahmah.

“Aku mencintaimu sepenuh jiwaku,” suatu senja suamiku berkata jujur.

“Aku juga, Suamiku. Aku mencintaimu apa adanya.”

Kami saling diam beberapa saat. Kemudian aku melanjutkan, “Kau hijrah karena aku, kan?” Suamiku tertegun sejenak. Tapi kemudian tersenyum dan berkata penuh kemenangan.

“Aku akui ya, aku hijrah karena dirimu. Tapi akan aku buktikan bahwa aku juga berjuang demi kemajuan Islam.”

Kami tertawa renyah, berdua. Di antara kemelut suasana yang masih mengahdapi beragam cobaan dan ujian, kami berjanji untuk membangun kebahagiaan. Tentu, kebahagiaan di dunia dan kesempurnaan akhirat.

Madura, 11042021.

***

Tinggalkan Balasan