Jangan-jangan dengan kita berhijrah malah menjadikan lupa diri menjadi manusia, sehingga terkesan menjadi “tuhan” dalam setiap hal yang diyakini kebenarannya. Manusia adalah tempatnya salah, dengannya kita selalu meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Jalan yang diridai, bukan jalan yang dimurkai.
Pemahaman dakwah juga mesti diluruskan. Bahwa dakwah itu mengajak seseorang untuk kembali ke jalan yang lurus. Tanpa paksaan, tanpa menyalahkan, dan tanpa membenci karena adanya perbedaan pandangan. Toh, kita juga sama-sama tidak tahu siapa yang kelak diridai oleh Allah dalam melaksanakan tugasnya di muka bumi.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa kesombongan hanya milik Allah. Jangan mengambil kesombongan dari-Nya untuk menghakimi sesama. Setiap kebenaran yang diyakini manusia hanyalah langkah untuk menuju kebenaran yang sejati. Untuk mencapainya ada banyak jalan, tidak harus dengan menyalahkan jalan yang berbeda dengan kita.
Seharusnya hijrah menjadikan mawas diri, merasa tidak mampu dan fakir ilmu. Dengan introspeksi diri, kita bisa belajar agama seluas-luasnya tanpa sekat ilmu pengetahuan karena kadung bertaklid dengan ustaz idola. Memahami hakikat perbedaan dengan jutaan tafsir di dalamnya. Belajar agama tidak instan, apalagi tega menyalahkan mereka yang belajar puluhan tahun di madrasah atau pondok pesantren. Masak iya, yang belajar agama setahun pantas menyalahkan ustaz atau kiai yang selama hidupnya menghibahkan diri belajar kitab di pesantren?
Seperti kutipan bijak dari KH Abdurrahman Wahid: “Semakin banyak ilmu, maka kamu akan semakin toleran!”
