Beliau kemudian mendekati saya dan mengatakan, “Kok tidak dihafal di pondok?” sambil menjewer telinga saya. Tidak keras memang, bahkan hampir-hampir tidak terasa. Namun pengaruh dari jeweran itu meliputi seluruh pemikiran dan seakan meremukkan tulang-tulang saya. Dalam hati saya berucap, “Pertemuan berikutnya saya harus bersiap.”
Benar saja, hari-hari berikutnya saya lewati dengan munajat doa dan belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak pernah terlewatkan munajat di sepertiga malam. Saya mencoba mengejar pelajaran yang tertinggal. Dan puncaknya, saya bisa, bahkan melewati mereka-mereka yang telah lama bermukim di pesantren. Satu teman saya yang selalu membantu dalam hal pelajaran adalah M Shafwi HS. Teman ini satu kampung, satu kamar di pondok, dan satu kaum (kawan makan di pondok).

Hikmah di balik jewer adalah giat dalam muthala’ah, rajin belajar, dan munajat di sepertiga malam. Akhirnya, ketika sampai pada kenaikan kelas saya pun mendapat ranking kelas. Sebuah ikhtiar yang tidak sia-sia. Sebuah upaya yang membawa kepada keberhasilan.
