Hikmah Puasa: Sabar Tak Mudik

Dalam situasi normal, hal itu bisa kita pahami. Namun, dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih terus mengintai dan mengancam, penolakan terhadap larangan mudik yang ditetapkan pemerintah sungguh sulit dipahami. Kenapa?

Kita harus belajar dari apa yang terjadi di India. Gelombang pasang Covid-19 di India salah satunya dipicu oleh perayaan keagamaan, yaitu ritual mandi di sungai atau Kumbh Mela yang dilaksanakan selama beberapa hari. Ritual keagamaan itu diikuti oleh jutaan orang tanpa menaati protokol kesehatan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah yang menjadi salah satu penyebab tsunami Covid-19, yang membuat angkat penyebaran virus ini mencapai lebih dari 4.000 angka kematian dalam sehari dan lebih dari 400 ribu munculnya kasus baru. Total, di awal Mei ini, terkonfirmasi total penyebaran Covid telah mencapai 21,9 juta kasus.

Tradisi mudik Lebaran kita ini bisa mirip-mirip dengan yang terjadi di India. Sebab, setiap Lebaran, jutaan orang hilir mudik untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Di kampung halaman, selama berlebaran, kita akan bertemu, bersilaturahmi, dengan begitu banyak orang yang juga baru mudik dari berbagai tempat. Tak pernah ada yang tahu siapa di antara kita yang telah tertular dan membawa virus itu. Bayangkan apa yang terjadi jika tidak ada larangan mudik, dan saat berlebaran kita abai pada protokol kesehatan. Gelombang pasang Covid-19 jelas menjadi ancaman yang sangat serius.

Sudah dua kali ini kita berlebaran dalam situasi pandemi Covid-19. Tahun lalu juga ada larangan mudik. Bahkan, selama Ramadan tahun lalu, banyak masjid dan musala ditutup dan kita dianjurkan untuk tarawih di rumah. Salat Idul Fitri pun juga dianjurkan dilaksanakan di rumah. Maka, menjadi sulit dipahami jika masih banyak yang menolak larangan serupa juga diberlakukan untuk Lebaran tahun ini.

Tinggalkan Balasan