Ibu, Kasih yang Tak Pernah Kering

Ibu bukan hanya memberi kehidupan fisik, tapi juga kehidupan emosional. Ketika dunia terasa berat, ibu adalah tempat yang selalu ada untuk memberi ketenangan. Sebuah gua yang siap menerima kita kembali tanpa syarat.

Salah satu gambaran mendalam dalam puisi Zawawi adalah bagaimana ibu selalu menunjukkan jalan hidup. “ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi/ aku mengangguk meskipun kurang mengerti.” Ini menggambarkan ibu sebagai sosok yang mengarahkan kita meski kadang kita nggak sepenuhnya paham.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kasih ibu adalah petunjuk yang mengarahkan kita dalam kegelapan, meski kita tak selalu tahu tujuannya. Ibu menunjukkan jalan, dan kita hanya perlu percaya untuk mengikutinya. Sebuah bentuk ketulusan yang tak meminta pemahaman, hanya kepercayaan.

Lebih lanjut, Zawawi menggambarkan kasih ibu dengan metafora mendalam: “bila kasihmu ibarat samudera/ sempit lautan teduh/ tempatku mandi, mencuci lumut pada diri.”

Ibu adalah samudera—luas, dalam, dan memberi kehidupan tanpa henti. Ia memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, membersihkan hati dan jiwa dari segala keburukan. Ibu adalah tempat kita berlayar mencari kedamaian di tengah tantangan hidup.

Tapi, apakah kita pernah menyadari betapa besar pengorbanan ibu? Sering kali kita lupa menghargai ibu saat segalanya baik-baik saja. Baru ketika menghadapi kesulitan, kita mencari tempat berlindung, dan ibu selalu ada.

Zawawi menulis, “kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/ namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu.” Ibu adalah pahlawan sejati—bukan hanya di hari istimewa seperti Hari Ibu, tapi setiap hari, dalam kesederhanaan dan ketulusan. Ibu adalah pahlawan tanpa pamrih, yang memberikan segalanya tanpa berharap kembali.

Tinggalkan Balasan