Hal seperti ini dilakukan bukan tanpa alasan. Abduh menyerukan anti taqlid karena umat Islam telah mengalami kejumudan berpikir. Sikap seperti ini yang pada gilirannya akan melahirkan sikap-sikap antipati terhadap perkembangan sains modern. Sikap taqlid buta harus dipupus, dan sebaliknya kita harus membuka pintu ijtihad lebar-lebar.
Sebab menurut Abduh, akal manusia merupakan akal manusia, baik dulu maupun sekarang. Kedudukan seorang Muslim dihadapan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam setiap waktu, dulu maupun sekarang adalah sama yaitu, seorang Muslim jaman akhir dan jaman dulu memiliki hak yang sama dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan sebenarnya umat Islam pada jaman akhir ini mempunyai pengetahuan yang tidak kalah luasnya dengan umat Islam yang dahulu sebagai syarat untuk berijtihad.

Dalam hal berijtihad, Abduh menekankan bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kekuatan intelektual yang diperlukan yang boleh melakukan ijtihad. Sedangkan orang lain hendaknya mengikuti ulama yang mereka percayai dan mengikuti ulama-ulama salaf sebelum timbulnya perpecahan-perpecahan. Karena itu, umat Islam dalam usaha memahami ajaran Islam harus kembali kepada sumber-sumbernya yang pertama yaitu, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu, Abduh juga mengajak untuk membuka kembali pintu ijtihad dengan bersemangat. Wajarlah dia mengatakan bahwa agama dan ilmu tidak ada pertentangan, Al-Qur’an bukan hanya sesuai dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong semangat umat Islam untuk mengembangkannya.
Menurut Abduh, kita harus menggunakan akal agar tidak taqlid. Seperti diketahui taqlid biasanya dipakai dalam ilmu fikih, berkaitan dengan orang-orang yang tidak mengetahui langsung dalil-dalil agama lalu mereka mengikuti saja praktek keberagamaannya pada orang-orang yang patut diteladani. Taqlid dalam bidang seperti ini untuk kalangan awam masih bisa ditoleransi. Namun, dalam bidang akidah tidak bisa ditoleransi karena akidah merupakan kepercayaan batin yang terdalam dan berfungsi sebagai fondasi dalam beragama, sehingga jika akidahnya kuat maka akan selamat, tetapi jika aqikahnya goyah, maka akan sangat membahayakan. Pendek kata, jika dalam masalah akidah masih diperbolehkan untuk ber-taklid, hal itu sama dengan menciptakan akidah umat yang rapuh.
Kedua Dzat Allah swt. Abduh adalah seorang yang tidak fanatik terhadap konsep teologi kelompok tertentu. Ia mengomentari tentang perbedaaan pendapat dikalangan ulama. Misalnya, dalam hal Dzat Allah yang tidak terjangkau yang sering menimbulkan perbedaan paham yang terjadi dikalangan ulama. Bagi Abduh, yang wajib kita imani adalah dzat Allah itu maujud dan tidak menyerupai apa yang ada dalam alam semesta ini. Lebih dari itu, merupakan masalah yang telah diselisihkan yang menyebabkan pertengkaran kronis diantara kaum Muslim sendiri. Maka, hal yang seperti itu tidak perlu didalami lebih jauh untuk dipersengketakan.
Ketiga Akal dan kemampuan. Akal merupakan satu-satunya ciri pembeda terpenting antara manusia dengan makhluk lain. Abduh menempatkan akal pada posisi yang istimewa, baik dalam hubungannya dengan aqidah maupun syariah. Menurutnya, Allah sebenarnya amat mencintai orang-orang yang mau menggunakan akalnya secara maksimal. Karena itu, Bagi Abduh, Islam merupakan agama rasional. Artinya agama dapat dipertemukan dengan akal dan akal sendiri merupakan faktor pelengkap terpenting bagi Agama. Abduh berpendapat bahwa semua manusia dapat sampai pada pengetahuan bahwa Tuhan itu ada (maujud). Hal ini dapat dibuktikan cukup dengan fenomena lahiriah eksistensi alam raya ini. Selanjutnya akal juga dapat mengetahui sifat-sifat Tuhan. Tuhan haruslah bersifat tidak berpermulaan (Qadim) dalam wujudnya. Tuhan jelas mempunyai sifat kekal (Baqa) yaitu tidak mempunyai kesudahan dalam wujudnya. Tuhan juga bersifat hidup (Hayat) sebab jika tidak begitu berarti banyak yang di alam ini yang mulia dari Dia. Tuhan juga mesti bersifat tuggal (Wahdaniyyah) oleh karena jika Tuhan lebih dari satu pasti terjadi kekacauan. Serta masih banyak lagi sifat yang diungkap Abduh.
Kesemuanya bisa diterima melalui akal tanpa perantara wahyu. Meskipun sejumlah sifat-sifat Tuhan dapat diketahui secara langsung oleh akal, tetapi sejumlah sifat-sifat Tuhan yang lain tidak mampu diketahui oleh akal, atau ada sifat-sifat yang ditunjukkan oleh wahyu harus diterima oleh akal. Dengan demikian, wahyu datang untuk menyempurnakan akal. Beberapa sifat Tuhan yang di informasikan oleh wahyu misalnya sifat kalam, kemudian Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sifat-sifat seperti digambarkan wahyu tersebut bagaimanapun harus diterima oleh akal.
Dalam pandangan Abduh, akal juga dapat mengetahui yang baik dan yang buruk sungguhpun tidak secara rinci. Yang dimaksud dengan baik adalah apa yang membawa manfaat sedangkan yang dimaksud buruk adalah sesuatu yang membawa madharat. Dalam hubungan ini Abduh memberi penjelasan lebih lanjut bahwa ada perbuatan-perbuatan yang menimbulkan rasa sakit tetapi pada dasarnya membawa kebaikan. Hanya sampai di sini Abduh tidak memberikan klarifikasi lebih jauh, apa sebenarnya yang menjadi ukuran akal dalam menilai sesuatu itu baik dan buruk.
Kemampuan akal yang lain menurut Abduh adalah bahwa, akal juga dapat mengetahui keadaan hidup sesudah mati. Keyakinan semacam ini sudah lama ada dan berkembang di kalangan para filosof dan bagi mereka akal dapat membuktikan adanya kehidupan setelah hidup di dunia ini. Hanya Abduh mencatat, yang dapat mempunyai pengetahuan perihal hari berbangkit adalah akalnya orang-orang khawas saja, sedangkan selain mereka sulit sampai ke pemikiran sejauh itu.
Sementara itu, akal kaum awam tidak sampai ke masalah seluk beluk hari akhir. Lebih jauh, Abduh menambahkan bahwa akal kaum khawas sendiri pun banyak tidak menjangkaunya. Ini artinya permasalahan hari akhir masih sangat misterius sekali bagi akal manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, dalam pandangan Abduh, meskipun keberadaan akal sangat luhur dan dapat mengetahui beberapa hal. Namun, tetap membutuhkan sesuatu selainnya sebagai sumber pengetahuan. Sesuatu itu tidak lain adalah wahyu yang datang dari Tuhan. Jadi wahyu turun untuk menyempurnakan akal.
