Beliau menjawab: “Orang-orang yang membenci dunia dan cinta akhirat. Rasulullah Saw ditanya lagi: “Siapa lagi (yang lebih baik) setelah itu?” Beliau menjawab: yaitu orang mukmin yang berbudi pekerti luhur.”
Hadis Nabi Muhammad Saw tersebut menjadi dasar untuk menegaskan bahwa toleransi memiliki makna yang komprehensif dalam Islam, baik secara internal maupun eksternal. Karena itu, toleransi tidak akan bisa jika tidak dimunculkan dari hati setiap insan. Dari sini bisa dipahami bahwa toleransi bukan saja memerlukan keterbukaan setiap orang untuk menerima pendapat, tapi juga membutuhkan pengorbanan spiritual maupun material, lahir-batin.

Dari sinilah kata as-samahah (toleransi) menjadi pedoman bagi umat Islam untuk melakukan mu’amalah atau bersosial (hablun minnas) yang juga didorong oleh spiritual batin (hablun minallah).
