Inilah yang merupakan titik awal dekadensi peradaban Islam dimulai. Di satu sisi, kaum muslim terlarut dalam manisnya historis.Pada sisi lain, Eropa Barat memulai perjalanan peradaban dan mengalami revivalisme yang masif. Reinasans (abad 14-17 M), Aufklarung (abad 17-18 M), dan Revolusi Prancis (abad 17 M) merupakan fenomena yang menjadi pintu gerbang kemajuan peradaban Eropa Barat. Perlahan tapi pasti, Eropa Barat mulai memangkas jarak dan mengejar ketertinggalannya dan membuat keunggulan historis Islam mulai terkejar bahkan tertinggal.
Pada era modern ini, peradaban Islam sudah tinggal kenangan indah dan hanya bisa dikenang tanpa bisa diulang, dan kaum muslim dipaksa mengakui keunggulan peradaban Eropa yang notabene non-muslim, yang berkembang sangat pesat dalam banyak aspek kehidupan bahkan semuannya.

Pada zaman modern ini, negara-negara non-muslim berperan sebagai produsen dan berkontribusi besar, sedangkan negara-negara muslim hanya berperan sebagai konsumen mangsa pasar global. Bahkan, sesuatu yang lebih menyakitkan adalah negara-negara non-muslim berhasil “merampok” nilai-nilai yang dalam Islam yang ditekankan oleh Al-Qur’an dan hadis. Padahal, muslim pemilik teori tapi mengapa non-muslim yang mampu mengimplementasi.
Sial bagi muslim, negara Finlandia berhasil “merampas” prinsip yang sudah tidak asing di telinga kaum muslim dan seringkali ditulis dalam bentuk poster dan ditempel di banyak tempat yang berbunyi:
“ النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ “
Artinya: “kebersihan merupakan sebagian dari keimanan”.
Dan dengannya Finlandia menyandang predikat negara terbersih di dunia. Sedangkan, kaum muslim masih sibuk membahas apakah hadis itu sahih atau bukan. Sial bagi muslim, negara Jepang dan Swiss berhasil mengimplementasikan prinsip yang tercantum pada kitab suci kaum muslim, yaitu Q.S Al-Ahzab,70 yang berbunyi:

Opininya keren 😎