Isra Mikraj

Isra Mikraj dan Diplomasi Langit

Syaikh Ahmad al-Marzuki, dalam lima bait monumentalnya pada kitab Aqidatul Awam, tidak sekadar sedang menyusun rima yang estetis. Beliau sejatinya sedang membangun sebuah peta jalan bagi para pemula yang barangkali masih tersesat dalam belantara skeptisisme.

Di tengah dunia yang mendewakan rasionalitas, al-Marzuki menyuguhkan pemahaman yang sederhana namun sarat akan kedalaman tafsir (syarh), mengajak kita menilik kembali peristiwa Isra Mikraj bukan sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai bentuk persaksian atas kemuliaan tanpa batas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melampaui Logika Ruang-Waktu

Bait ke-empat puluh enam dan empat puluh tujuh dalam Aqidatul Awam menegaskan dimensi kronologis dan geografis yang krusial:

وَقَبۡـلَ هِجۡـرَةِ ٱلنَّـبِيِّ ٱلۡإِسۡرَا * مِـن مَّـكَّةَ لَيۡلاً لِقُدۡسٍ يُدۡرَى

وَبَعۡدَ إِسۡـرَاءٍ عُرُوجٌ لِلسَّـمَا * حَتَّى رَأَى ٱلنَّـبِيُّ رَبًّا كَـلَّمَا

“Sebelum hijrah, Nabi Isra malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis yang dikenal suci. Lantas Nabi naik ke langit setelah Isra, hingga beliau melihat Tuhan yang berfirman secara nyata.”

Bagi setiap mukallaf, meyakini keajaiban ini adalah sebuah keniscayaan iman. Peristiwa agung yang secara masyhur terjadi pada 27 Rajab—setahun sebelum fajar Hijrah menyingsing—merupakan perjalanan yang melampaui logika materi. Dimulai dari kesucian Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis, hingga menembus tirai langit menuju Sidratul Muntaha. [1]

Di puncak tertinggi eksistensi itulah, Sang Nabi bukan sekadar saksi atas ayatina al-kubra (ayat-ayat kebesaran Tuhan yang mahadahsyat), melainkan menjadi wadah bagi curahan rahmat yang mengalir langsung dari singgasana-Nya. Inilah puncak keintiman antara Sang Khalik dan kekasih-Nya yang paling mulia.

Namun, di balik kemegahan teologisnya, Isra Mikraj menyimpan sisi yang sangat “manusiawi”. Peristiwa ini adalah sebuah spiritual tourism (wisata hati) yang dianugerahkan Allah sebagai kompensasi atas duka mendalam (‘amul huzni) pasca wafatnya Abu Thalib dan Sayyidatuna Khadijah.[2]

Menariknya, sebagian komentator (syarih) lain —seperti Syaikh Nawawi Banten disalah satu kitab syarh ‘Aqidat al-Awwam— menyebutkan bahwa perjalanan ini juga dipicu oleh kerinduan penghuni langit yang ingin berjumpa dengan sosok Rasulullah. Di sini kita belajar: hiburan bagi seorang Nabi bukanlah gemerlap pasar atau kesenangan artifisial, melainkan perjalanan melintasi batas menuju Qudsin Yudro. Bahkan kekasih Tuhan pun membutuhkan penguatan spiritual via pertemuan langsung dengan Zat yang dicintainya untuk membalut luka lara di bumi.

Diplomasi Langit 

Salah satu fragmen terpenting dari perjalanan ini adalah turunnya perintah salat lima waktu. Berbeda dengan zakat, puasa, atau haji yang disampaikan melalui kurir Malaikat Jibril, perintah salat diberikan secara “pribadi” di Sidratul Muntaha.

Dalam logika birokrasi, jika seorang atasan memanggil bawahannya langsung tanpa perantara staf, maka perintah tersebut memiliki urgensi yang tak tertandingi.

Ini adalah diplomasi tingkat tinggi. Salat, dengan demikian, adalah “ruh” dari agama. Ia merupakan satu-satunya kanal yang memungkinkan manusia melakukan “Mikraj kecil” setiap hari. Di tengah dunia yang makin bising, salat adalah ruang untuk menjaga kewarasan dan berjumpa Tuhan sebanyak lima kali dalam sehari.

Menariknya, kewajiban praktis ini baru dimulai pada waktu Dzuhur setelah malam tersebut, karena hukum kewajiban sangat bergantung pada penjelasan teknis (kaifiyah). Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang presisi; bimbingan teknis dari Jibril menjelang Dzuhur menjadi titik awal dimulainya pengabdian formal manusia kepada Tuhannya.

Membaca kembali bait-bait Aqidatul Awam perihal Isra Mikraj adalah upaya untuk menahan diri dari jebakan euforia rasionalitas yang berlebihan. Peristiwa ini mengajarkan bahwa hidup memang penuh misteri. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus fisika atau matematika, namun bisa dirasakan dengan getaran sejarah dan iman.

Sebagaimana bait-bait terakhir yang mengabadikan gelar Ash-Shiddiq bagi Abu Bakar karena pembenarannya yang tanpa ragu, kita pun diajak untuk percaya. Percaya berarti merdeka dari ketergantungan pada logika materi. Kita diajak menyadari bahwa di atas langit yang tujuh, pernah terjadi sebuah percakapan suci yang membisikkan pesan abadi: bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di bumi ini, dan Nabi Muhammad benar-benar bahagia kala itu.

[1] Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Jala’ al-Afham Syarh ‘Aqidat al-‘Awwam (Riyad: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 1425 H.), h. 105-106.

[2] Minbar al-Islam, edisi Rajab 1396 H./1976 M. Dikutip dalam Abu Majdi Haraki, Misteri dan Keajaiban Isra Mi’raj, terj. Moh. Azar (Yogyakarta: Diva Press, 2016) h. 282.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan