“Iya, Mas, yang lain sudah ada di alun-alun semua.” bergitu lembut suara Rosali yang diriingi senyum manis.
Kau tak ketinggalan memasang senyum, dan memastikan Rosali melihat senyummu. Lirikanmu sedikitpun tidak teralihkan pada tubuh sintal Rosali saat tubuhnya nyaris hilang di pertigaan selatan rumah temanmu.

“Bagaimana?”
“Bisa negosiasi sekarang?”
“Ha-ha-ha… kau sudah sungguh ngebet nikah lagi, ya.” Kau tertawa mendengar celoteh temanmu, pun demikian temanmu.
“Kalau bisa negosiasi sekarang, jangan banyak buang waktu.” begitu mantap kau meyakinkan dirimu untuk segera menjalin hubungan dengan Rosali.
***
Wajahmu kembali cerah setelah mendung kau usir dengan kedatangan Rosali. Dua hari lalu kau sudah meminangnya. Tidak banyak yang tahu memang, di samping menjaga uang tidak ke mana, kau juga memastikan tidak ada cibiran tetangga berhamburan di udara.
Di samping Rosali, malam pertama kau tidur, tidak ada suara-suara bising apapun. Lelap malammu begitu sepi, hingga sampai pagi ketenangan masih kau kantungi. Rosali, seperti yang kau pikiran beberapa hari kemarin; tidak mendengkur ketika tidur.
Ketenangan yang kau rasakan itu pecah ketika memasuki malam kelima. Tidak sama persis seperti istrimu yang pertama memang. Hanya, kau cukup tersiksa juga dengan tingkah laku Rosali di sepertiga malam, yang tiada henti mengingau sambil sesekali disertai gerakan kaki atau tangan yang mengarah ke segala arah. Di malam itu pula, bibirmu pecah akibat entakan tangan Rosali terlalu keras mendarat. Kau menahan geram kesakitan. Untungnya, kau tidak sampai berteriak. Tak lama kemudian, tendangan kaki Rosali agak sedikit keras mengenai pinggulmu, dan kau terjerembab ke dasar lantai pualam.
Ke esokan paginya, kau bertanya pelan kepada Rosali perihal tingkahnya malam tadi. Di ruang tamu, menjadi tempat yang paling mungkin mengutarakan keresahanmu.
“Perempuan tidak baik kalau tidur mengingau,” kau berujar sambil melonggarkan bibirmu yang pacah.
“Maksudmu? Kau menunduh tidurku mengingau?” tatapannya begitu sinis dengan menyipit-nyipitkan kantung mata.
“Bibirku pecah sebab tanganmu, dan aku terjerembab akibat kakimu. Apa memang begitu cara tidurmu hampir menyerupai orang kerasukan.”
“Eleh alasan, kau ingin memojokkanku kan?”
“Maksudmu?”
“Buktinya, bibirmu pecah karena tanganku, kau jatuh dari ranjang karena kakiku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa.” Kau tidak mampu meladeni Rosali. Ia lebih bebal dari istrimu yang pertama, dan pikiranmu mulai berencana untuk meninggalkannya.
Untuk menalak Rosali, kau masih harus berpikir berkali-kali. Sebab, selama lima malam, sedikitpun kau masih belum menikmati tubuh sintal Rosali. Rugi sekali jika tidak kau nikmati terlebih dahulu. Tetapi, kau takut bibir pecah dan jatuh dari ranjang kembali terjadi dan sakitmu tidak kunjung terobati.
Karena itu, segera kau putuskan untuk mengembalikan Rosali ke rumahnya sendiri. Teringat istrimu yang pertama, tidak ada kesempatan kedua bagi istri yang tidak sesuai kehendak hati. Maka, di waktu pagi, saat matahari semakin meninggi, dengan lembut kau berujar pada Rosali agar kembali ke rumahnya. Dengan berat hati, Rosali menuruti walau dada perih dan mata pedih tak bisa kau tutupi.
***
