TUHAN PUN ERAT MEMELUK
(1)
Pada gelombang pasang yang bergulung-gulung
di Minggu pagi yang tak bermendung
jerit siapa terapung-apung
samar terdengar menggapai pucuk gunung

Pada dinding air pecah mengebah
di Minggu pagi yang terendam amis darah
tangis siapa membuncah
luput hanyut bersama pohon rebah
Pada reruntuk bumi yang remuk
di Minggu pagi yang tak sempat hiruk
bayang siapa hilang bentuk
gamang mengguguk entah dipeluk
(2)
Setelah reruntuk menumpuk bumi yang remuk
desir angin datang membujuk bagai suluk
tapi semua terasa asing, semua merasa pangling
dan pada dinding hening semua akan berpaling
Kelak pada dinding hening
yang melipat peta-peta lama
kita akan berbaku tanya
tentang alamat kota-kota duka
