Ia menjelaskan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara tidak sekadar menjadi tempat kapal berlabuh. Pelabuhan merupakan ruang interaksi yang mempertemukan pedagang, ulama, dan masyarakat lokal sehingga melahirkan jaringan keilmuan yang kemudian mempercepat penyebaran Islam.
“Laut bukan pemisah antarpulau, melainkan ruang yang menyatukan berbagai peradaban,” terang Anwar Sanusi.

Menurutnya, proses islamisasi tidak berlangsung melalui penaklukan, melainkan tumbuh dari hubungan perdagangan, pendidikan, dan interaksi sosial. Para saudagar Muslim yang datang ke Nusantara bukan hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga membangun permukiman, masjid, dan lembaga pendidikan yang menjadi pusat berkembangnya komunitas Islam.
Anwar juga menyoroti hubungan Nusantara dengan Tiongkok yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Jalur sutra dan jalur maritim saling terhubung, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran manusia, budaya, dan gagasan. Para pedagang yang datang memang tidak selalu berprofesi sebagai ulama, tetapi keberadaan mereka membuka jalan bagi terbentuknya komunitas-komunitas Muslim di kawasan pesisir.
