“Harapan Pak Haerus untuk bisa kembali menanami lahannya tidak akan pernah terwujud. Ketiga anaknya terancam putus sekolah.”
“Jangan putus asa terlebih dahulu. Barangkali janji itu akan ditepati.”

Para pemuda yang dulu merupakan muridku mengaji di masjid itu saling sahut. Berbeda dengan mereka yang sedang diamuk emosi; aku mulai memikirkan nasibku sendiri. Kata-kata Pak Anto semalam menghantuiku. Tidak hanya memikirkan lahan pertanian yang kini menjadi jurang tandus dan menyeramkan, meletusnya demo hari ini membuat gajiku bulan ini kemungkinan besar tak terbayarkan. Sebuah keadilan memang selalu membutuhkan perjuangan, tak cukup hanya di angan-angan. Aku bergelut dengan pikiranku sendiri di tengah riuh suara para pemuda.
“Harusnya Pak Mus yang memimpin tambang, biar lingkungan dan nasib kita diperhatikan.”
“Yang penting kita sudah berusaha. Betul kan Pak Mus?” Seorang pemuda dengan tahi lalat di pipi itu memancingku berbicara.
“Usaha kita belum selesai. Nanti, begitu ada sinyal internet, kalian segera unggah kejadian hari ini. Atau besok pergilah ke kota untuk mencari sinyal. Jangan lupa buat narasi yang bagus. Sampaikan keluhan yang benar-benar terjadi, tentang nasib petani, tentang lingkungan yang rusak, janji-janji perusahaan, dan sertakan bukti-bukti yang ada,” aku ikut bersuara. Mereka pun menyetujui usulanku.
Cahaya bulan yang redup tampak dari celah pepohonan dan tampak di atas atap rumah warga. Aku berjalan sendirian menuju mess dengan langkah pelan. Tempat ini akan segera menjadi kenangan dalam perjalanan hidupku. Kutengok HP-ku dan sinyal internet masih belum juga kembali pulih. Rasa kantuk mendera tubuh yang terasa letih. Aku ingin segera mengempaskan tubuh ini ke atas ranjang.
Bayang-bayang hari yang sulit dan melelahkannya kehidupan di perantauan akan segera kuobati dengan perjumpaan dengan ibuku tercinta. Begitu sampai di rumah nanti akan kusegerakan pernikahanku. Besok aku akan berkemas dan lusa akan terbang menuju kampung halaman di Donomulyo, ujung selatan pulau Jawa sana.
Langkahku terhenti beberapa meter di depan pintu rumah. Pintu itu dipalang dan terkunci dengan gembok yang cukup besar. “Anda Dipecat” tulisan pemecatanku mengadang langkah. Benar apa yang kutakutkan. Tak akan ada pesangon. Mimpi-mimpiku untuk segera membangun rumah tangga meredup. Bahkan untuk sekadar tidur malam ini saja aku tak tahu bagaimana. Ada rasa cemas yang menggelora di dalam dada.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat ke arahku.
“Tidurlah di rumah kami Pak,” ucap Sadil dan Husni, adiknya. Aku berjalan menghampiri dan merangkul mereka.
Mentaraman, 27 Juli 2024.
*Satu dari Tiga Cerpen Pilihan Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024.
