Jihad Pesantren Kiwari: Memadukan Tradisi dan Modernitas

Sebagaimana kita tahu, Indonesia mengalami persimpangan sejarah dengan berkuasanya pemerintah kolonial. Di pengujung abad kekuasaannya di tanah Hindia Belanda, pemerintah kolonial memberlakukan politik etis dengan dibukanya akses pendidikan sekolah bagi semua masyarakat bumiputra. Di rentang pemberlakuan politik etis itu, pesantren yang sudah eksis di masa-masa sebelumnya terus mengalami peminggiran. Karena untuk menjemput dunia modern, masyarakat Bumiputra harus bergabung dan bersekolah dengan pendidikan Eropa dari politik etis tersebut. Dengan demikian, pesantren secara otomatis menjadi dan memiliki tantangan yang lebih (jihad) dalam memposisikan dirinya untuk bertahan serta bisa relevan beriringan dengan perkembangan serta perubahan yang terjadi. Hal tersebut bukanlah perkara mudah, namun mungkin di situlah apa yang dimaksud dengan jihad pendidikan (sebagaimana judul tulisan ini) pesantren itu diuji.

Memasuki parokedua abad ke-20, pesantren menghadapi kegoncangan dan pilihan-pilihan yang sulit, yakni tatanan dunia modern dalam arus globalisasi. Pada masa-masa itu, tradisi yang selama ini hidup dan terjaga di pesantren melalui pengamalan-pengamalan langsung mengalami kegoncangan. Karena, dalam arus globalisasi, hal-hal tersebut mengharuskan pada kebutuhan akan pembentukan identitas-identitas yang terkonstruksi sebagai prasyarat masuk dan pengenalan dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Hal itu kemudian menandai sebuah zaman baru yang dihadapi pesantren dan disebut sebagai zaman modern.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di zaman modern ini, pesantren dihadapkan pada persoalan zaman yang dilematis, yaitu derasnya arus ilmu pengetahuan dan teknologi dari Eropa (Barat). Dilematis, karena di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut merupakan capaian peradaban manusia dan turut membentuk realitas hari ini, di saat bersamaan bila penggunaan dari capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak diiringi dengan pertimbangan dan koridor-koridor yang berlaku, yang terjadi justru akan merusak pesantren itu sendiri. Sehingga, jalan tengahnya adalah pesantren bisa menerima hal itu semua jika sudah dirasa membutuhkan, dan disesuaikan dengan norma-norma yang ada. Dan jalan untuk mengetengahi itu semua, pesantren telah istikamah tetap berada di jalan pendidikan.

Visi Hidup Kiai

Penanda selanjutnya yang mencirikan dirangkulnya dunia modern oleh beberapa pesantren yang memadukan dengan warisan lamanya adalah peran seorang kiai. Pesantren modern melahirkan generasi baru kiai yang sedikit berbeda dengan kiai pesantren tradisional pada umumnya. Kiai pesantren tradisional atau biasa disebut kiai kampung, selain mengajar santri juga biasa mengisi pengajian atau khotbah Jumat di tengah masyarakat secara langsung.

Berbeda dengan kiai pesantren modern yang berfokus mengajar dan mengurus santri di dalam kompleks pesantren. Hal tersebut bukan berarti kiai pesantren modern tidak mengurus masyarakat. Ia tetap terlibat aktif dalam masyarakat tempat pesantren itu berada, namun perbedaannya ia tidak bertindak secara langsung dan perannya lebih sering diwakilkan oleh santri-santri senior.

Hal demikian terjadi, karena di masa modern, pesantren menjadi sub-kultur dari masyarakat. Wacana ini sering dilontarkan dalam diskursus pesantren di dekade-dekade yang lalu oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Selain itu, karena sebab pesantren merupakan tempat pembentukan moral agama, maka dalam beberapa hal ia bersifat asketis yang memerlukan lingkungan berbeda, bahkan dalam kondisi tertentu memisahkan diri dengan masyarakat.

Terlepas dari perbedaan tersebut, kiai pesantren secara keseluruhan tetap sama dalam hal visinya mencetak kepribadian santri, membina masyarakat, serta pandangannya akan sebuah bangsa. Pandangan hidup kiai-kiai pesantren terwakili oleh seruan KH Hasyim Asy’arie yang berpandangan mencintai tanah air merupakan bagian dari iman. Maka, para kiai pesantren seluruhnya menjaga eksistensi tanah air dan Pancasila sebagai falsafah (kalimatun sawa) bangsa Indonesia.

Memadukan Pelajaran Umum dan Pengajaran Agama

Tinggalkan Balasan