Kafir Ekologis: Tangan-tangan yang Menghancurkan Bumi

Selama ini mulut kita kerap melontarkan sumpah serapah ketika banjir datang menghancurkan segalanya: insfratruktur pendidikan, ekonomi, dan berbagai sendi kehidupan lainnya. Namun ironisnya, terkadang kerusakan tersebut justru lahir dari tangan kita sendiri. Kitalah yang, sedikit demi sedikit, menghancurkan dunia sekaligus harapan-harapannya.

Karena itu, yang pantas “dikafirkan” bukan hanya teroris atau kelompok ekstremis yang berkedok militan. Siapa pun—bahkan diri kita sendiri—yang melakukan “kriminalitas” terhadap lingkungan hingga menimbulkan kerusakan besar, layak pula disebut demikian. Barangkali istilah yang lebih tepat adalah “kafir ekologis”: mereka yang secara sadar atau tidak menjadi mafia di balik kematian lingkungan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sastrawan nasional, K. Faizi, pernah menceritakan sebuah praktik menarik di Rusia. Di sana terdapat petugas yang bertugas mengintai orang yang membuang sampah sembarangan. Ketika pelaku ditemukan, petugas tersebut mengambil sampah yang dibuang lalu memasukkannya kembali ke kendaraan si pembuang tanpa izin.

Kisah tersebut sederhana, tetapi menyimpan pesan penting: menjaga kebersihan bukan sekadar soal estetika, melainkan juga kesehatan yang berujung pada kesejahteraan. Baik kesejahteraan jasmani maupun rohani.

Penegakan seperti itu setidaknya mengajarkan satu sikap penting: responsif. Responsif terhadap apa yang kita lakukan. Responsif terhadap lingkungan sekitar. Responsif terhadap berbagai tindakan kecil yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar.

Dalam skala global, persoalan sampah telah menjadi ancaman serius. Indonesia bahkan tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Fakta ini tentu menimbulkan keprihatinan banyak pihak, termasuk kalangan ulama—terutama ulama Nahdlatul Ulama—yang melihat kerusakan lingkungan semakin nyata akibat sampah. Karena itu, persoalan ini tidak cukup hanya disesali; ia perlu menjadi momentum untuk menata ulang cara pandang dan kesadaran kita terhadap lingkungan.

Al-Qur’an sendiri telah lama mengingatkan bahwa kerusakan di daratan dan lautan tidak lain adalah akibat ulah tangan manusia. Ayat ini seolah menegaskan bahwa manusia memiliki kuasa sekaligus tanggung jawab terhadap Bumi. Tidak berlebihan jika sebagian ilmuwan kemudian memandang tangan manusia sebagai simbol kekuasaan yang menentukan arah peradaban. Bahkan Nabi Muhammad pernah menegaskan bahwa dari tangan manusia dapat lahir pekerjaan paling mulia.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan