Namanya Hasan. Tapi dalam dokumen negara ia pernah disebut dengan istilah yang lebih resmi: rumah tangga miskin kategori dua.
***
Hasan tidak pernah benar-benar memahami apa arti kategori itu. Baginya, hidup hanya terdiri dari hal-hal sederhana: bekerja jika ada yang memanggil, pulang jika matahari sudah terlalu lelah, dan memastikan dapur tetap mengepul walau kadang hanya dengan nasi dan garam.
Ia tinggal di sebuah gang sempit yang tidak pernah masuk peta wisata kota. Rumahnya berdinding papan dan tripleks yang warnanya sudah berubah menjadi abu-abu karena terlalu sering terkena hujan dan debu. Di belakang rumahnya ada rel kereta yang setiap malam bergetar seperti napas kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Istrinya, Sari, menjual gorengan di depan rumah. Anak mereka satu. Namanya Arif, kelas dua SMP yang setiap pagi berjalan kaki hampir tiga kilometer ke sekolah karena ongkos angkot terlalu mahal. Semua berjalan seperti biasa sampai suatu hari seorang petugas kelurahan datang membawa formulir.
“Pendataan bantuan sosial,” katanya sambil tersenyum.
Hasan diminta menyebutkan banyak hal: penghasilan, jumlah anggota keluarga, kondisi rumah, jenis pekerjaan. Petugas itu menulis cepat seolah hidup Hasan hanyalah deretan angka yang harus segera diselesaikan sebelum jam makan siang.
Beberapa minggu kemudian bantuan datang: beras sepuluh kilogram. Kadang minyak goreng, kadang uang yang ditransfer melalui rekening bank yang bahkan Hasan tidak tahu cara memeriksanya tanpa bantuan tetangga yang lebih muda.
Tetangga-tetangga sering bercanda.
“San, kamu sekarang resmi miskin menurut negara.”
Hasan hanya tertawa kecil.
Ia tidak tahu harus merasa bangga atau malu. Yang ia tahu, beras itu cukup untuk membuat dapur mereka tetap hidup sampai akhir bulan.
