Namanya Hasan. Tapi dalam dokumen negara ia pernah disebut dengan istilah yang lebih resmi: rumah tangga miskin kategori dua.
***
Hasan tidak pernah benar-benar memahami apa arti kategori itu. Baginya, hidup hanya terdiri dari hal-hal sederhana: bekerja jika ada yang memanggil, pulang jika matahari sudah terlalu lelah, dan memastikan dapur tetap mengepul walau kadang hanya dengan nasi dan garam.
Ia tinggal di sebuah gang sempit yang tidak pernah masuk peta wisata kota. Rumahnya berdinding papan dan tripleks yang warnanya sudah berubah menjadi abu-abu karena terlalu sering terkena hujan dan debu. Di belakang rumahnya ada rel kereta yang setiap malam bergetar seperti napas kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Istrinya, Sari, menjual gorengan di depan rumah. Anak mereka satu. Namanya Arif, kelas dua SMP yang setiap pagi berjalan kaki hampir tiga kilometer ke sekolah karena ongkos angkot terlalu mahal. Semua berjalan seperti biasa sampai suatu hari seorang petugas kelurahan datang membawa formulir.
“Pendataan bantuan sosial,” katanya sambil tersenyum.
Hasan diminta menyebutkan banyak hal: penghasilan, jumlah anggota keluarga, kondisi rumah, jenis pekerjaan. Petugas itu menulis cepat seolah hidup Hasan hanyalah deretan angka yang harus segera diselesaikan sebelum jam makan siang.
Beberapa minggu kemudian bantuan datang: beras sepuluh kilogram. Kadang minyak goreng, kadang uang yang ditransfer melalui rekening bank yang bahkan Hasan tidak tahu cara memeriksanya tanpa bantuan tetangga yang lebih muda.
Tetangga-tetangga sering bercanda.
“San, kamu sekarang resmi miskin menurut negara.”
Hasan hanya tertawa kecil.
Ia tidak tahu harus merasa bangga atau malu. Yang ia tahu, beras itu cukup untuk membuat dapur mereka tetap hidup sampai akhir bulan.
Beberapa tahun kemudian kota mereka berubah. Pemerintah mulai berbicara tentang digitalisasi data, sistem terpadu, dan efisiensi bantuan sosial. Kata-kata itu sering muncul di televisi bersama grafik yang naik turun seperti ombak. Hingga suatu pagi seorang petugas baru datang ke kampung mereka.
Petugas itu tidak membawa formulir kertas seperti dulu. Ia membawa tablet elektronik. “Sekarang kita pakai sistem digital,” katanya.
Ia memotret rumah Hasan dari depan. Memotret dapur. Bahkan memotret kipas angin kecil yang tergantung di dinding.
“Bapak punya kendaraan?”
“Motor lama,” jawab Hasan. “Buat antar galon.”
Petugas itu mengetik sesuatu.
“Anak sekolah?”
“Satu. SMP.”
Petugas mengetik lagi.
Setelah beberapa menit ia menutup tabletnya. “Terima kasih, Pak. Data Bapak sudah diperbarui.”
Hasan mengangguk. Ia tidak terlalu memikirkan apa arti pembaruan data itu. Baginya hidup tetap sama: bekerja, pulang, makan, tidur.
Namun tiga bulan kemudian bantuan itu berhenti datang. Awalnya Hasan mengira hanya terlambat.
Sebulan berlalu. Dua bulan. Ia akhirnya datang ke kantor kelurahan. Petugas di balik meja memeriksa komputer sebentar lalu berkata dengan nada santai:
“Nama Bapak sudah tidak masuk daftar.”
Hasan mengerutkan dahi. “Daftar apa?”
“Daftar keluarga miskin.”
“Kenapa?”
Petugas itu mengangkat bahu.
“Menurut sistem, kondisi ekonomi Bapak sudah membaik.”
Kalimat itu terdengar aneh sekali. Hasan pulang dengan langkah pelan. Di rumah, istrinya sedang menggoreng tempe di wajan kecil yang minyaknya sudah dipakai berkali-kali.
“Bagaimana?” tanya Sari.
Hasan duduk lama sebelum menjawab. “Katanya kita sudah tidak miskin.”
Sari menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti sesuatu yang hampir patah.
Sejak hari itu Hasan mulai memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan: data. Ia mendengar kata itu di televisi, di kantor kelurahan, di ponsel tetangganya. Data seolah menjadi cara baru negara memahami rakyatnya.
Jika datamu mengatakan kau miskin, bantuan datang. Jika datamu mengatakan kau tidak miskin, maka kau tidak miskin. Tidak peduli apakah dapurmu benar-benar kosong atau tidak.
Hasan mencoba mengurus keberatan. Ia diminta mengisi formulir baru, membawa fotokopi KTP, surat keterangan RT, dan foto rumah. Proses itu seperti berjalan di lorong panjang dengan banyak pintu yang semuanya terkunci.
Suatu hari seorang pegawai berkata pelan: “Masalahnya bukan di kami, Pak. Di sistem.”
“Sistem siapa?” tanya Hasan.
Pegawai itu mengangkat bahu.
“Ya… sistem.”
Sementara itu televisi terus menayangkan berita tentang kemajuan. Pejabat berdiri di depan layar besar yang menampilkan grafik berwarna.
“Angka kemiskinan berhasil kita turunkan,” kata mereka dengan bangga.
Hasan melihat berita itu dari warung kopi di ujung gang. Ia tidak marah. Ia juga tidak tertawa. Ia hanya merasa aneh melihat hidupnya berubah menjadi garis kecil di dalam grafik.
***
Suatu hari seorang mahasiswa datang ke kampung mereka untuk penelitian skripsi.
Mahasiswa itu membawa kuesioner.
“Pak Hasan termasuk keluarga miskin?”
Hasan berpikir sejenak.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang kata negara tidak.”
Mahasiswa itu terlihat bingung. “Menurut Bapak, apa arti kemiskinan?”
Hasan menatap jalan sempit di depan rumahnya. Ia memikirkan banyak hal: dapur yang sering kosong, sepatu sekolah anaknya yang mulai sobek, listrik yang kadang harus menunggu sampai malam karena uang token belum ada.
Akhirnya ia berkata pelan: “Kemiskinan itu ketika hidupmu bisa dihapus dari daftar, tapi tidak pernah benar-benar hilang dari rumahmu.”
Mahasiswa itu menuliskan kalimat itu lama sekali di buku catatannya. Beberapa bulan kemudian pemerintah mengadakan rapat warga di balai kelurahan. Seorang pejabat menjelaskan program baru.
“Kita sekarang memakai sistem data yang lebih akurat.”
Seorang ibu di belakang bertanya, “Kalau datanya salah?”
Pejabat itu tersenyum. “Data tidak pernah salah. Yang salah biasanya pelaporannya.”
Orang-orang saling pandang. Hasan duduk diam di kursi plastik. Ia menyadari sesuatu yang pelan-pelan membuat dadanya terasa berat: bahwa kemiskinan ternyata bukan hanya soal hidup yang sulit, tapi juga soal siapa yang punya kuasa untuk menuliskannya.
Tahun berikutnya angka kemiskinan kembali diumumkan turun. Grafik-grafik baru muncul di televisi. Orang-orang bertepuk tangan di ruang konferensi pers. Sementara di gang sempit dekat rel kereta itu, Hasan masih bangun setiap pagi untuk mencari pekerjaan apa saja yang bisa membuat dapurnya tetap menyala. Kadang ia membantu tukang bangunan, kadang mengantar galon, kadang hanya duduk menunggu seseorang memanggil namanya.
Ia tidak lagi menunggu bantuan. Ia juga tidak lagi berharap masuk daftar apa pun. Karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang tidak pernah ditulis dalam laporan resmi: Bahwa bagi sebagian orang, kemiskinan bukan sekadar angka. Ia adalah kehidupan yang terus berlangsung, bahkan setelah namanya dihapus dari tabel negara.
Suatu malam Arif bertanya padanya: “Pak, kalau kita tidak miskin, kenapa hidup kita masih begini?”
Hasan tidak langsung menjawab. Ia menatap lampu redup di ruang tamu kecil mereka, lalu berkata pelan: “Mungkin karena kemiskinan yang sebenarnya tidak pernah ada di data.”
Arif mengangguk tanpa benar-benar mengerti.
Di luar rumah, kereta malam lewat dengan suara panjang yang mengguncang dinding. Hasan memejamkan mata sejenak. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ada banyak orang seperti dirinya di negeri ini: orang-orang yang hilang dari statistik, tapi masih hidup di dalam kenyataan.
Sumber ilustrasi: pinterest.
