Kaji Sangit

Tiba-tiba aku sedih, dan hati terasa perih seperti tersayat sembilu. Hari ini aku mendengar kabar, di kota yang sudah sesak oleh masjid ini, sebuah gedung sekolah dasar akan digusur karena di sana akan dibangun sebuah masjid baru, masjid agung —masjid yang akan diagung-agungkan karena mungkin tak akan kalah mentereng dibandingkan masjid di kota lainnya yang baru dibangun dengan biaya lebih dari setriuliun rupiah. Lalu, murid-murid sekolah dasar itu akan dipindahkan ke sekolah-sekolah lain hingga mereka akan belajar berdesakan di ruang-ruang kelas yang sempit.

Duh. Betapa sedihnya aku. Sebab, jika kabar itu benar, berarti orang-orang telah lebih bergairah beribadah di masjid-masjid yang megah ketimbang menyuburkan taman-taman ilmu untuk anak cucu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Duh. Betapa sedihnya aku. Kabar itu membuatku teringat akan sebuah cerita berjudul Kaji Sangit. Tentu saja cerita ini didasarkan pada kisah setengah nyata; kenapa orang-orang menjuluki sosok dalam cerita kita ini dengan sebutan Kaji Sangit.

Nama sebenarnya adalah Soleman. Karena sudah berhaji ke tanah suci Mekkah, tentu saja ia dipanggil Kaji. Harusnya orang-orang memanggilnya Kaji Soleman. Tapi, di belakang punggung sosok dalam cerita kita ini, orang-orang menyebutnya Kaji Sangit dengan cara berbisik-bisik. Setengah takut setengah mengejek. Sebab, orang-orang sudah membayangkan bahwa kelak, meskipun sudah berhaji, Kaji Soleman akan menjadi kerak neraka karena kebakhilannya.

Itulah kenapa ia dijuluki Kaji Sangit —karena bau hangusnya ketika menjadi kerak neraka seakan sudah bisa tercium di dunia ini. Luar biasa!

***

Orang paling kaya di desa itu adalah Kaji Soleman. Tapi bagi banyak orang, ia juga dikenal sebagai orang yang paling kikir. Sebab, jika ada orang yang datang ke rumahnya meminta sumbangan untuk pembangunan masjid atau musala, orang tersebut selalu pulang dengan tangan hampa.

Salah seorang yang menjadi korban kekikiran Kaji Soleman adalah Kusni, pengurus salah satu masjid di desa itu. Suatu sore, sehabis menjadi imam salat ashar, Kusni bertandang ke rumah Kaji Soleman. Kusni sebenarnya tahu, berdasarkan cerita-cerita yang ia dengar dari orang-orang suruhannya, Kaji Soleman sudah sering menolak permintaan sumbangan. Tapi, dengan kedudukannya sebagai pengurus masjid, Kusni akan mencoba meluluhkan hati Kaji Soleman.

Setelah beruluk salam dan berbasa-basi, Kusni menyampaikan hajatnya bertamu ke rumah Kaji Soleman. “Dibandingkan dengan masjid-masjid lain, masjid kita ini sudah terlalu kecil Pak Kaji. Dan, hmmm, sudah terlihat jelek, kusam. Apa tak malu kita sama Tuhan. Ini rumah Tuhan loh, harus megah.”

“Ya, ya, saya paham. Tapi mohon maaf, saya belum bisa membantu dana untuk membesarkan dan memegahkan masjid kita. Maklum, saya masih banyak keperluan yang lain,” jawab Kaji Soleman.

Sehabis salat isya, Kusni mengumpulkan pengurus masjid, mengabarkan penolakan Kaji Soleman. Mereka meriung di teras masjid. Di sana juga ada Parno, kepala desa yang ditemani beberapa perangkatnya. “Kenapa orang sekaya itu tak mau menyumbang untuk membangun masjid. Apa dia tak menginginkan surga dengan beramal jariyah,” kata Kusni membuka percakapan.

“Bakhil benar dia,” sahut yang lain.

“Kikir.”

“Pantas jadi kerak neraka!”

“Dasar Kaji Sangit!”

Ada yang menggerutu. Ada yang terkekeh. Tapi, sejak saat itu, orang-orang mulai menjuluki Kaji Soleman sebagai Kaji Sangit.

Tinggalkan Balasan