Kisah ini diceritakan oleh KH Wahab Hasbullah yang mengalami sendiri seperti apa kekeramatan (kejunelan) dari Mbah Kholil. Kiai Wahab yang termasuk pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, mengungkapkan pengalamannya sendiri ketika ingin mondok di pesantren yang diasuh oleh Mbah Kholil. Dengan berbekal semangat yang besar, Wahab muda berangkat menuju pesantren Mbah Kholil.
Namun di dalam pesantren sendiri, selama tiga pekan sebelum Kiai Wahab Hasbullah tiba, Mbah Kholil mengumpulkan seluruh santri dan mengabarkan akan ada macan yang akan masuk ke area pesantren. Mendengar berita tersebut, para santri pun bersiap-siap dengan berbagai senjata (gagaman, Madura) untuk menghalau atau bahkan membunuh macan tersebut. Kebetulan sekali, area pesantren Mbah Kholil dekat dengan perhutanan, sehingga dimungkinkan ada macan yang datang dari arah hutan tersebut.

Memasuki pekan ketiga dari pemberitahuan itu, datanglah seorang pemuda, kurus dan tidak terlalu tinggi. Pemuda itu membawa sebuah koper. Melihat pemuda yang datang, kemudian Mbah Kholil berteriak kepada para santri, “Ini macannya sudah datang. Ayo, kepung… kepung…,” terikah Mbah Kholil.
