Karl Marx mengkritik agama lantaran manusia dialienasikan oleh agama dari kehidupan nyata di dunia, dan dibuai dengan kehidupan akhirat di surga. Bisa dilihat bagaimana masyarakat miskin sangat nyaman dengan kemiskinannya, karena bagi mereka menjadi miskin adalah nikmat yang harus disyukuri, bukan untuk diingkari. Seakan-akan agama memberi legitimasi atas penderitaan, kesengsaraan, dan kemiskinan manusia.
Tafsir Transformatif

Dengan demikian, jika agama tidak ditafsirkan secara transformatif, maka agama tidak akan mempunyai daya dobrak pada masyarakat secara revolusioner. Pada akhirnya, kritik Karl Marx kepada agama menjadi benar, bahwa agama menjadi candu masyarakat.
Seakan menjawab kritik Karl Marx terhadap agama, seorang antropolog bernama Moeslim Abdurrahman mengatakan bahwa dalam menghadapi kemiskinan, teks agama harus ditafsirkan secara transformatif, sehingga nantinya terjadi perubahan mendasar di masyarakat dari masyarakat diam menjadi masyarakat bergerak. Masyarakat harus berubah, bukan stagnan. Benar jika kemiskinan adalah takdir Tuhan, tetapi merupakan takdir yang dapat diubah. Tergantung bagaimana kesadaran seseorang atau kelompok masyarakat bergerak untuk mengubahnya.
Jika ditafsirkan secara transformatif pula, agama sejatinya tidak menyukai kemiskinan. Sebab kemiskinan dapat membawa masyarakat pada keingkaran terhadap Tuhan. Seharusnya agama membantu masyarakat untuk terbebas dari jeratan kemiskinan. Bahkan dapat dikatakan bahwa agama yang tidak mampu membebaskan jeratan kemiskinan masyarakat adalah agama yang mendustakan Tuhan. Apalagi umat beragama yang abai terhadap fenomena kemiskinan. Menafsirkan agama secara transformatif, bukan dogmatik, merupakan pintu pembebasan atas fenomena kemiskinan dan menjawab kritik atas Karl Marx. Karena agama adalah kritik sosial atas kenyataan, bukan pasif adanya.
Hal ini pun direspons sangat baik oleh keberadaan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan dengan mendirikan banyak lembaga amil zakat infak dan sedekoh di berbagai kota. Meskipun di negara ini sangat utopis untuk menghilangkan kemiskinan, setidaknya dengan kehadiran lembaga filantropi agama bisa mengurangi dan membantu masyarakat terbebas dari jeratan kemiskinan. Tanpa adanya pergerakan agama yang transformatif dan progresif, maka kemiskinan hanya akan menjamur dan tak pernah terurai dari kehidupan masyarakat.
Daftar Pustaka:
Abdurrahman, Moeslim, Islam yang Memihak, LKiS, 2010.
Jones, Pip, Dkk, Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Fungsionalisme hingga Post-modernisme, Yayasan Pustaka Obor, 2016.
Mabnunah, Potret Kemiskinan Sebagai Wajah Indonesia yang Belum Pudar, Yogyakarta 2020
Qodir, Zuly, Sosiologi Agama: Teori dan Perspektif Keindonesiaan, Pustaka Pelajar, 2018.
Schuman, Olaf, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan, Grasindo, 1993.
