Kenapa Harus Aswaja

Melalui kehadiran bukunya ini, Kiai Hasyim selalu mengingatkan kita agar bersatu dalam rumah yang baik ini, yaitu NU. Kita harus bertanya kepada guru-guru yang sedari dulu mengajari kita apa itu ilmu dan pentingnya ilmu. Bukan malah berguru kepada orang baru yang sedikit-sedikit berbicara kembali pada Al-Quran dan hadis. Padahal, perbuatan mereka belum tentu mencerminkan apa yang disampaikan. Dengan demikian, bertambah besarlah bayangan-bayangan sehingga orang-orang yang tidak menerima taufik dan hidayah Allah akan tertarik oleh gerakan mereka (hal. 20).

Kehadiran buku kecil ini datang di saat-saat yang tepat karena hadir dalam konteks di mana menyambung sanad agaknya kurang begitu diperhatikan akhir-akhir ini. Banyak orang-orang sudah melupakan guru yang pertama kali mengajarkan alif sampai ya’ dan lebih memilih ustaz-ustaz yang tiba-tiba muncul di layar kaca (medsos).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penulis mengutip pesan gurunya yang berpesan agar memelihara ilmu yang dipelajari dari gurunya. Ibarat kunci, ilmu adalah kunci dan murid adalah pemegangnya. Oleh karena itu, tidak memasuki suatu rumah kecuali melalui pintunya. Siapa saja yang memasuki rumah tidak melalui pintunya, maka pencurilah yang namanya (hal. 19).

Menariknya, penyampaiannya bahasa dalam buku ini sangat sederhana tetapi memberikan kontribusi yang cukup besar bagi yang belum pernah menemui beberapa kajian buku yang sama-sama meneliti NU. Kehadiran buku ini menjadi penting untuk dibaca. Selain memang buku ini membantu generasi NU yang berkeinginan hendak mengetahui kiprah dan dinamika perjuangan NU dan para tokohnya, yang sangat mendesak hemat kami adalah penulisnya dapat merekam langsung hal-hal penting saat NU mau didirikan hingga pasca berdirinya. Karenanya, Yusuf Suharto, editor buku ini, mengaku merasa penting untuk mencetak kembali buku ini. Selamat membaca. (*).

Data Buku

Tinggalkan Balasan