Prahara bermula sejak kabar tentang hamilnya Sumi. Keluarga besar Ebes menyambut dengan gembira berita itu, termasuk Ebes yang juga bersyukur atas kehamilan anak pertamanya itu. Tapi bagaimanakah dengan Sumi? Tak ada yang tahu persis bagaimana perasaannya saat itu. Senyumnya tampak bercampur kekhawatiran. Dan itu benar. Beberapa waktu kemudian Ebes mendengar keluhan pertama dari Sumi.
Sumi merasa ia belum siap menerima kenyaatan akan menjadi seorang ibu. Ia merasa belum siap dengan segala perubahan yang akan terjadi. Meskipun Ebes berulang kali memberikan nasihat dan pandangan positif, tapi tampaknya ia tak mengenal betul istri yang baru tiga bulan dinikahinya itu. Alih-alih memberikan perubahan perasaan nyaman kepada Sumi, nasihat Ebes lebih terdengar seperti khotbah setiap harinya, tak mencerahkan dan tak memberi jalan keluar atas apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh Sumi.

Beberapa kali Sumi mengatakan kepada Ebes bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya. Ia seperti sedang dirasuki oleh sesuatu. Ada yang mengganggu pikiran dan jiwanya. Namun, hal itu malah dianggap sebagai omong kosong, bahkan Ebes juga enggan menanggapi keluhan istrinya tersebut. Hingga suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak diduga terjadi.
***
“Setelah peristiwa itu terjadi, Ebes berubah menjadi seperti orang gila. Ia bahkan sering kelihatan menyendiri di atas atap rumahnya sambil tertawa terbahak-bahak. Namun, kabarnya keluarganya berhasil membawanya ke sebuah pengobatan dan beginilah jadinya,” kata Pak Supar mengakhiri ceritanya sore itu.
Para karyawan pabrik yang telah beberapa hari ini mengikuti cerita Pak Supar di warung belakang pabrik telah mengetahui bahwa ada peristiwa dahsyat yang melatarbelakangi karakter Ebes yang sekarang. Mendengar cerita itu, lantas beberapa karyawan pabrik memutuskan untuk mengenal lebih dekat dengan Ebes sembari berniat untuk membantu mengobati kesedihannya. Malam itu juga mereka pergi mengunjungi bagian pemotongan kayu.
“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kejiawaan saya jika mengalami hal itu,” kata Pak Gi sembari berjalan menuju tempat kerja Ebes.
“Apalagi saya. Melihat anak mati di tangan ibunya sendiri. Itu bukan pengalaman hidup yang baik. Makanya, kita harus lebih mengerti dan menyayangi istri kita di rumah,” kata Pak Man mengingatkan yang lain.
“Betul. Apalagi jika sedang hamil dan menyusui. Jangan sampai anak menjadi korban,” kata mereka kompak.
Jember, 2023.
