Kesetiaan Sarung

Sarung tidak mengenal kasta. Santri baru, santri senior, bahkan kiai besar, semuanya pakai sarung. Ia menyatukan kelas sosial dengan cara yang lembut. Tapi justru di situ letak kebesarannya. Ia tidak perlu menunjuk-nunjuk jati dirinya, karena semua orang sudah paham nilainya.

Secara teknis, sarung memang fleksibel. Ia bisa dipakai sempit atau longgar, tergantung mood. Celana tak bisa begitu. Salah ukuran sedikit, kau akan tersiksa sepanjang hari. Tapi fleksibilitas sarung bukan hanya soal ukuran tubuh. Ia adalah metafora dari keluwesan hidup santri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam hidup yang penuh keterbatasan, santri belajar menyesuaikan diri. Hari ini makan tempe, besok makan nasi bungkus sisa pengajian, lusa mungkin puasa. Sarung mengajari bahwa yang penting bukan bentuk, tapi kesiapan hati.

Saya pernah tidur siang dengan sarung dijadikan selimut. Pernah juga menjadikannya kerudung darurat untuk teman yang tertinggal mukena. Bahkan pernah memakainya sebagai kantung belanja saat pulang dari warung.

Celana tidak bisa seperti itu. Celana terlalu serius. Terlalu terikat dengan fungsinya. Tapi sarung? Ia penuh kejutan. Ia bisa menjadi apa saja, selama niatnya baik.

Dalam kehidupan santri, sarung juga punya peran dalam ruang spiritual. Tak terhitung berapa kali air mata santri jatuh ke atas sarung saat berdoa malam-malam. Tak terhitung pula zikir yang dibaca sambil menggulung sarung, atau mimpi-mimpi yang lahir saat tertidur berselimut sarung di serambi musala.

Ada sesuatu yang lembut dalam sarung yang tidak ditemukan dalam celana. Sarung tidak memelukmu erat seperti celana, tapi justru karena itu, ia memberimu ruang. Ruang untuk bergerak, bernapas, dan merenung. Bukankah dalam cinta pun, yang membuat kita nyaman adalah ruang yang diberikan, bukan himpitan yang memaksa?

Tinggalkan Balasan