Ia mencoba mengemudikan perahunya menuju pelabuhan. Badai dari arah pantai mulai menerpanya. Gelombang setinggi dua meteran bertubi-tubi menghantam perahunya. Kejadian itu mengakibatkan mesin perahu mati karena kemasukan air. Berkali-kali ia menstarter perahunya tetapi mesin tidak mau hidup.
Gelombang tinggi itu tanpa ampun menghajar perahu Padil hingga cadik kanan perahunya patah. Kejadian itu membuat perahunya hilang keseimbangan sampai terbalik. Padil yang terguling bersama perahunya melihat keranjang terjatuh, ikannya berhamburan tenggelam bersama semua isi perahu.

***
Di tengah hujan badai, Rahmat pergi ke rumah Mbah Waras. Ia berniat meminta Mbah Waras untuk menyelamatkan Padil yang sedang diterpa badai di laut.
“Jika aku masih muda, belum tentu aku bisa melawan badai besar seperti ini.”
“Terus bagaimana, Mbah? Apa kita biarkan Padil mati tenggelam?”
“Bukan aku tak mau menyelamatkan Padil. Tapi, aku tak mungkin memerintahkan warga mencari orang yang belum tentu selamat. Jika aku memaksa orang-rang mencarinya di tengah badai seperti ini, sama saja menyuruh meraka bunuh diri.” Mbah Waras melangkahkan kakinya ke jendela kemudian memandang ke tengah laut.
“Aku rasa dini hari atau pagi nanti badai akan berakhir. Kamu suruh para warga berkumpul ke sini jika badai sudah reda.”
Badai terus menghujam tubuh Padil sepanjang malam. Entah berapa banyak air yang masuk ke tubuhnya. Tangannya mengait sebuah balok kayu yang terapung. Di tengah gelapnya badai, ia hanya mampu berdoa semoga ada yang menjemputnya malam ini.
***
Sehabis subuh banyak warga menuju pelabuhan. Mereka berkumpul di berapa perahu yang berada di pelabuhan.
“Dawam, kamu pimpin tiga perahu menyusuri teluk timur. Rahmat kamu pimpin tiga perahu menyusuri teluk barat. Aku, Pak Kasun, dan sisanya akan menyusuri bagian tengah teluk,” perintah Mbah Waras kepada tim pencari.
Mbah Waras merasakan akan ada badai susulan di sore itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sebelum menemukan Padil.
“Kamu hubungi semua kapal segera kembali ke pelabuhan karena akan ada badai susulan yang segera datang.”
Prediksi Mbah Waras terbukti, bakda maghrib hujan mulai turun. Beberapa saat kemudian, angin kencang mengiringi hujan. Suara halilintar mengelegar. Di Samudra Hindia, ombak pun kembali menggila menghantam tumbuh lemah Padil. Walaupun badai tak seganas kemarin, hantaman ini terasa lebih kuat karena tenaganya makin melemah. Terlihat wajah Padil semakin memucat. Itu terjadi karena ia terlalu banyak meminum air hingga tubuhnya dehidrasi.
“Ayo badai, hantam aku. Aku tak kan menyerah.” Padil berteriak sekuat tenaga.
***
Pada hari ketiga, Perahu Jain melihat serpihan di perbatasan Teluk Prigi dan Samudra Hindia. Perahu mereka dengan cepat diarahkan ke lokasi tersebut.
“Kami telah menemukan Padil,” kata Jain melalui HT yang dibawanya.
“Ketemu di mana?” tanya Rahmat.
“Ia mengapung bersama balok-balok pecahan kapalnya di ujung Teluk Prigi.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Ia sepertinya sedang kritis.”
