Ketika Keiinginan Mondok Terpenuhi Setelah Dewasa

Saya terpukau bagaimana agama sebenarnya adalah jawaban atas segala persoalan yang dihadapi oleh manusia. Ketika sulit mereka diajarkan untuk bersabar, bahwa orang sabar sedang bersama Tuhan dan tentang syukur adalah doa lanjutan yang justru akan membuat manusia mendapatkan hadiah lebih banyak lagi dari Tuhan. Puncaknya, saya terpukau dengan sebuah keadaan dari manusia yang merasa bahagia dengan apapun yang menimpanya, yaitu rida dengan segala keputusan-Nya.

Pada akhirnya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur, kesempatan tak bisa diulang. Saya tidak bisa mengulang pilihan untuk masuk pondok pesantren, karena biaya sudah keluar banyak dan tentu orang tua saya tidak mau saya mengulang satu ajaran baru lagi karena pindah sekolah. Singkatnya, saya meneruskan belajar di MAN sampai tamat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berbekal pengetahuan yang tentunya hanya sebatas standar kurikulum yang wajib saya tuntaskan selama belajar di MAN, saya kemudian ditakdirkan oleh Allah untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi ini, saya justru semakin tersiksa dengan penyesalan, mengapa saya tidak memilih pondok pesantren waktu itu.

Bukan berarti saya mendiskreditkan MAN tempat saya belajar selama tiga tahun, tapi rasanya kurang pas, untuk orang yang pada akhirnya jatuh hati dengan literasi ala pesantren, khususnya tentang pengalaman spiritual seperti tasawuf, menghabiskan banyak waktu di tempat yang kurang tepat. MAN adalah alternatif bagi mereka yang menghindari pondok pesantren, ingin belajar agama tapi masih ingin dekat dengan orang tua. Bagi saya yang kemudian menjadi senang dengan literasi pesantren, rasanya tempat itu kurang pas.

Di bangku kuliah, saya memang punya akses bacaan yang bebas. Saya bebas membaca buku yang disediakan perpustakaan kampus yang tentunya tak mungkin saya habiskan semua. Akan tetapi, pembacaan demikian semakin membuat saya gelisah, sehingga muncul pertanyaan benarkah apa yang saya pahami dari hasil bacaan saya itu?

Hal ini bukan berarti saya meragukan isi dari buku yang saya baca. Saya yakin isinya tentu bermanfaat, akan tetapi, pemahaman saya itu perlu saya lemparkan balik kepada seseorang yang nantinya juga melemparkan balik kepada saya. Sederhananya, saya butuh teman diskusi.

Tinggalkan Balasan