“Hai, bisakah kau mengembalikan aku
Pada hujan, pada teriakan ibu di kejauhan
Pada diam ayah yang membuatku gemetar”
Ia berbicara pada sebuah tanggal
Tanggal itu diam. Tentu saja.
Ia tak pernah punya pilihan lain selain
Sekadar mengikuti putaran takdir
Ia hanya penaggalan biasa
Dan selebihnya adalah Tuhannya yang bekerja

Tiba-tiba ia mencopot tanggal pada kalender itu
Sebuah lubang menganga membuka yang lika-liku
Ia memutuskan untuk masuk
Mencari hujan, mencari teriakan
Mencari suara yang membuatnya kerap gemetar
Semakin jauh, semaki laju
Ia temukan dunia yang baru di lubang tanggal itu
Tapi dewasa adalah sebuah kemarau yang tak pernah
Sekalipun di sapu hujan
Hidupnya makin kalut dan menakutkan
Ia belum menemukan apa yang ia cari
Runcing jarum jam makin gencar memburunya kini.
Gapura, 20 Januari 2022.
RANJANG
Ranjang itu berderit, Haijen
Lengking, nyaring.
Menusuk pendengaran
Memecah pembuluh darah dan jaluran pernapasan
Aku lihat izroil sudah menyiapkan sejumput catatan
Atau barangkali sebuah kunci surga
Jika saja aku syahid sebab tertusuk
Lengkingan ranjang dan peliknya kenyataan.
Kesunyian bergegas dari ranjang mu itu, Haijen
Kuntum-kuntum melati tertata rapi
Seperti lentik matamu yang belum mampu ku lupa ini.
Aromanya menyeruak ketenangan
Bagimu, bagi perempuanmu
dan betapa naifnya aku yang kemudian teracuni sebab bau itu.
