Interaksi sosial dengan masyarakat juga menjadi hal vital dalam kegiatan ini. Moralitas mereka dalam bergaul dengan masyarakat sangat diperhitungkan. Selain itu, kepekaan sosial yang biasanya berasal dari kemampuan otodidak dan kesadaran pribadi sangat diperlukan sebagai seni dalam pergaulan atau interaksi tersebut.
Jika tidak mau dikatakan sebagai kemampuan otodidak, maka kepekaan sosial itu lahir dari pendidikan yang memang benar-benar matang. Sehingga pertanyaan selanjutnya, apakah peserta didik sudah memiliki kepekaan yang dimaksud? Apakah pelajaran di kelas sudah cukup untuk membuka intensitas kepekaan sosial mereka?

Di kegiatan inilah kemudian semua pertanyaan tersebut terjawab. Bisa dikatakan dengan kegiatan MPS ini, pihak lembaga (Nasy’atul Mutaallimin) akan merekam dan memotret segala bentuk tingkah asli dan perilaku peserta didik secara langsung. Sebab, tingkat kecerdasan di kelas bukan menjadi tolok ukur dari kecerdasan seseorang dalam lingkup sosial yang lebih luas.
Peserta didik yang mendapat nilai bagus di kelas—bahkan menjadi santri teladan—tidak memastikan dia akan memiliki kepekaan sosial tinggi. Bisa jadi dia yang tidak masuk 6 besar di kelas jauh lebih lihai dalam berperan dalam sikap sosial. Buktinya, beberapa dari mereka yang berhasil dinobatkan sebagai peserta terbaik MPS (ketika imtihan) bukan berasal dari kalangan front line di kelasnya. Saya melihat beberapa peserta terbaik justru berasal dari luar 3 besar atau 6 besar di kelas.
Namun, terlepas dari itu semua, keberadaan MPS sebagai salah satu program pesantren dan sekolah adalah kegiatan yang sangat perlu diapresiasi. Bahkan, jika bisa, juga dipraktikkan oleh lembaga-lembaga lain. Pasalnya, sebagaimana dikatakan di awal, para santri tidak hanya akan stagnan berada di kelas dan mengikuti pelajaran. Mereka juga diberi ruang untuk berekspresi di ruangan yang lebih luas, masyarakat.
Dari program ini pula, setidaknya ada beberapa hal yang bisa didapatkan oleh para santri atau peserta MPS. Pertama, membuka kemampuan adaptif mereka terhadap lingkungan. Adalah suatu keberuntungan jika tempat MPS yang ditentukan tidak mengalami krisis apapun. Namun, merupakan sebuah tantangan jika ternyata tempat yang dijadikan lokasi MPS justru mengalami krisis. Ini merupakan tantangan bagi peserta MPS. sebab, mau tidak mau mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan tersebut.
Sebagaimana terjadi pada lingkungan tempat saya mengabdi dulu, di Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango. Dusun yang berada di pulau Poteran tersebut mengalami krisis air nyaris sepanjang kami berada di sana. Sehingga, dengan keadaan seperti itu, kami terpaksa menggunakan air sehemat mungkin. Bahkan seringkali kami mandi di laut, sebelum kemudian membersihkan tubuh dengan air tawar di sumur dengan kuantitas air yang tak seberapa. Namun, kenyataan itu yang kemudian membuat kami sadar.
