Menarik, walaupun kealimannya sudah masyhur di kalangan masyarakat tidak lantas membuat Kiai Zuhri bersikap arogan dengan merendahkan orang lain. Sebaliknya, beliau justru bersikap rendah hati dan hormat pada siapa pun baik yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata maupun yang berpangkat. Semua orang beliau layani dan hargai. Jika sedang menghadapi banyak tamu, Kiai Zuhri memberikan perhatian pada mereka semua. Bahkan, mereka ditanyai satu persatu, sehingga tidak ada yang merasa disepelekan.
Yang paling berkesan dari kerendahan hati dan akhlak Kiai Zuhri. Pada waktu saya masih berada di pesantren, dan mengaji langsung kitab Bulughul Maram dan Mukhtasar Ihya Ulumiddin kepada beliau. Biasanya, beliau menyuruh santri satu per satu untuk membacanya.

Kebetulan, ketika saya mendapat giliran membaca, ada satu lafaz yang keliru bacaan dan maknanya. Maklum masih awam. Dalam pikiran saya, sudah pasti saya akan dimarahi oleh beliau. Ternyata, Kiai Zuhri hanya tersenyum sembari berkata dengan nada ramah, santun, dan lembut, “Tidak tahu itu wajar, namun harus tetap semangat dalam belajar.”
Sungguh, betapa rendah hati dan mulianya akhlak KH Zuhri Zaini. Bukan hanya kepada para ulama, habaib, dan orang luar (tamu maupun wali santri), tetapi terhadap santrinya pun Kiai Zuhri menggunakan tutur kata yang sangat halus, lembut, dan santun. Bahkan, jika ada salah satu santrinya yang sudah menjadi kiai, Kiai Zuhri sangat menghormatinya. Di depan mereka, sikap beliau laiknya sikap seorang santri pada kiainya.
